Bagi Jimly, jika hendak mencari pembanding yang sepadan, sosok Mahfud lebih cocok disandingkan dengan ahli hukum lain seperti Yusril Ihza Mahendra. Alasannya, keduanya sama-sama pernah terlibat dalam kontestasi pilpres tingkat nasional.
“Kalau ditandingkan, tandingannya Yusril, bukan Wapres dia, Calon Presiden masih MPR. Nah, jadi jangan disandingkan sama saya, saya jauh ini, dia lebih hebat ini,” jelas mantan Ketua ICMI itu.
Balasan Penuh Apresiasi dari Mahfud MD
Di sisi lain, Mahfud MD membalas kekaguman Jimly dengan pujian serupa. Ia mengungkapkan bahwa Jimly justru merupakan orang pertama yang mengajaknya mengenal lebih dekat dunia Mahkamah Konstitusi. Saat itu, Mahfud masih menjabat sebagai Rektor Universitas Kadiri.
“Tapi, yang pertama kali ngajak saya ke MK kan beliau, ketika muncul ini ada calon-calon hakim MK yang bagus, nanti ada Pak Mahfud, ada Pak Yusril, loh kok Pak Jimly nyebut saya, ternyata dimuat oleh koran, saya mulai tertarik, saya ke MK beneran,” kenang Mahfud.
Dialog penuh nuansa sejarah ini tidak hanya sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menggambarkan jejaring intelektual yang dibangun di saat-saat krusial bangsa. Pertemuan ide-ide dari berbagai pakar hukum itulah yang kemudian turut membentuk kerangka konstitusional Indonesia pasca-reformasi.
Artikel Terkait
Amran Serukan Kolaborasi Saudagar Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global
Puncak Arus Balik Lebaran, Penumpang Bandara Tembus 583 Ribu Orang
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Berpotensi Banjir dan Longsor di Sulsel Tiga Hari ke Depan
Kepala BAIS Letjen Yudi Abrimantyo Mundur, TNI Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum