Posisi Saudi sendiri memang menarik. Secara historis dan kultural, mereka berseteru dengan Iran. Dan sebagai sekutu AS yang sudah lama, hubungan mereka dengan Washington terbilang erat. Ingat saja Operasi Desert Storm tahun 1991, saat AS menggunakan pangkalan di Saudi untuk menggempur Irak.
Tapi belakangan, nuansanya agak berbeda. Saat ketegangan AS-Iran memanas, Saudi justru mengambil sikap yang lebih hati-hati. Baru-baru ini, Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS) secara tegas menyatakan sikapnya.
Pernyataan itu keluar usai ia berbincang via telepon dengan Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian. MBS menegaskan bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau teritorialnya digunakan untuk aksi militer apa pun yang menargetkan Iran.
"Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayahnya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran atau untuk serangan apa pun dari pihak mana pun, terlepas dari asal-usulnya," demikian keterangan resmi yang dikutip dari The Saudi Press Agency (SPA), Rabu (28/1).
Alih-alih konfrontasi, MBS justru mendorong penyelesaian melalui dialog. Tujuannya jelas: meningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan. Sebuah sikap yang, dalam konteks penjualan senjata miliaran dolar ini, terasa seperti permainan yang rumit.
Artikel Terkait
Aktivis Muhammadiyah Serukan Prabowo Ganti Kapolri, Sebut Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Provokatif
Gelombang Klinik Halal: Saat Kecantikan Bertemu Keyakinan di Indonesia
Anggota Polisi Syariah di Aceh Merasakan Cambuk Pertama Kalinya
Jokowi Siap Bekerja Mati-Matian untuk PSI, Targetkan Struktur Lengkap Akhir 2026