UpScrolled, Aplikasi yang Jadi Pelarian dari Sensor TikTok
Popularitas aplikasi media sosial UPSCROLLED tiba-tiba meledak. Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, aplikasi ini jadi rebutan. Yang menarik, pendirinya adalah seorang pengusaha bernama Issam Hijazi seorang Palestina-Yordania yang kini berdomisili di Australia.
Lonjakan ini terjadi persis ketika banyak pengguna mencari alternatif dari TikTok. Kenapa? Pekan lalu, TikTok resmi diambil alih oleh investor dan perusahaan yang didukung AS. Larry Ellison, pemilik Oracle, termasuk di dalamnya. Ellison dikenal sebagai pendukung setia Israel dan sahabat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Akuisisi ini bikin banyak orang khawatir. Mereka takut postingan yang mendukung Palestina bakal lebih mudah disensor.
Memang, operasi global TikTok masih dipegang ByteDance dari Cina. Tapi kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Contohnya Rabu lalu. TikTok memblokir secara permanen akun Bisan Owda, jurnalis pemenang Emmy dari Gaza yang kontributor Al Jazeera. Langkah ini langsung memicu kemarahan dan seruan boikot. Aplikasi itu juga dituding menyensor konten soal kekerasan petugas imigrasi AS (ICE) yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Nah, di sinilah UpScrolled masuk.
Aplikasi yang baru setahun berdiri ini nyelonong ke puncak daftar unduhan AS. Pada Rabu, ia bahkan menduduki peringkat pertama kategori "jejaring sosial" di App Store Apple. Posisinya juga bagus di Inggris, Kanada, dan Australia.
Gara-gara janji "teknologi transparan"-nya, pengguna TikTok yang kecewa pun ramai-ramai pindah. Banjir pengguna baru ini sampai bikin server mereka kewalahan akhir pekan lalu. "Beban yang luar biasa pada server kami. Sangat menyenangkan!" tulis Hijazi di platformnya pada Ahad. Tapi dia juga minta maaf atas gangguan yang terjadi dan berjanji memperbaiki dalam 24 jam.
Lalu, seperti apa sih UpScrolled ini?
Intinya, aplikasi ini kayak gabungan X (dulu Twitter) dan Instagram. Bisa untuk foto, video pendek, dan unggahan teks. Antarmukanya mirip X, lengkap dengan fitur like, komentar, dan repost. Tapi sejauh ini, pengguna lebih banyak pakai untuk teks dan foto ketimbang video pendek ala TikTok.
Ada juga "Halaman Temukan" yang mirip Snapchat. Dan topik paling panas di sana? Palestina. Ratusan unggahan yang menggambarkan penderitaan di Gaza atau menyerukan solidaritas membanjiri halaman itu.
Beberapa nama terkenal sudah bergabung. Misalnya Chris Smalls, aktivis buruh AS yang ikut Freedom Flotilla ke Gaza Juli 2025. Lalu ada Jacob Berger, aktor Yahudi-Amerika dari Brooklyn Nine-Nine yang juga ikut dalam misi yang sama.
Awal pekan, sempat ada keluhan soal unggahan video yang error. UpScrolled bilang itu akibat lonjakan pengguna dan sudah diperbaiki.
Siapa dalang di balik layar?
Issam Hijazi, sang pendiri, membangun UpScrolled pada Juli 2025. Dia mantan karyawan perusahaan teknologi besar macam Oracle dan IBM. Proyek ini didukung oleh Tech for Palestine, sebuah inisiatif yang mendanai teknologi pro-Palestina.
Dalam sebuah wawancara, Hijazi bercerita alasannya keluar dari karir mapan dan bikin aplikasi ini. Dia terinspirasi atau lebih tepatnya, terdorong oleh pembantaian di Gaza yang disebut Komisi PBB sebagai genosida. Ditambah lagi, tingkat sensor di platform besar sudah bikinnya jengah.
“Saya tidak tahan lagi,” katanya.
“Saya kehilangan anggota keluarga di Gaza, dan saya tidak ingin terlibat. Jadi saya berpikir, saya sudah selesai dengan ini, saya ingin merasa berguna.”
“Saya menemukan celah di pasar. Banyak orang bertanya, kenapa nggak ada alternatif selain platform Big Tech yang suka nyensor? Ya udah, saya bikin sendiri.”
Laporan PBB tahun lalu bahkan menuduh IBM dan beberapa raksasa tech terlibat dalam apa yang disebut "genosida Israel". Sementara itu, Instagram, X, dan TikTok kerap dituding melakukan shadow ban pada konten pro-Palestina.
Klaim UpScrolled sederhana: mereka hanya moderasi konten ilegal (kaya jualan narkoba), selain itu, bebas. Algoritmanya pun sengaja tidak dirancang buat bikin orang ketagihan scroll.
“Bukan karena kami nggak bisa. Merancang algoritma seperti itu sangat mudah,” kata Hijazi. “Tapi saya nggak mau. Saya tahu dampaknya bagi mental orang, terutama anak muda.”
Feed mereka tetap kronologis, fitur yang justru sudah hilang di banyak aplikasi lain. Meski untuk Halaman Temukan, mereka masih eksperimen pakai AI untuk mengatur ulang berdasarkan perilaku pengguna.
Seberapa besar sih?
Hingga Jumat (30/1/2026), unduhan di Google Playstore sudah lebih dari 1 juta. Data Sensor Tower memperkirakan sekitar 400.000 unduhan di AS dan 700.000 secara global sejak diluncurkan Juni 2025.
Posisinya mentereng: nomor satu di App Store Apple AS, mengalahkan Threads, WhatsApp, dan TikTok sendiri. Di Google Play untuk Android, ia ada di peringkat keenam di mana TikTok masih mendominasi.
Kekhawatiran sensor di TikTok sendiri makin menjadi.
Sejak kesepakatan dengan AS berlaku, tagar TikTokCensorship langsung trending di X dan Instagram. Larangan terhadap akun Bisan Owda seolah jadi bukti bagi banyak orang. Banyak juga yang bilang kritik terhadap operasi ICE atau bahkan konten anti-Trump ikut ditekan.
Gubernur California Gavin Newsom bahkan ikut angkat bicara. Lewat unggahan di X, dia akan menyelidiki TikTok setelah ada keluhan konten pengguna ditandai ofensif karena menyebut nama Jeffrey Epstein.
Di sisi lain, para kreator TikTok mengeluh soal gangguan teknis. Video mereka sepi penayangan, unggahan jadi lambat. Entah kebetulan atau tidak, ini terjadi setelah kesepakatan bisnis pekan lalu.
Jadi, sementara satu platform dituduh membatasi suara, platform baru lainnya justru mendapat angin. Persaingan dan gejolak di dunia media sosial tampaknya masih akan panjang.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu