Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung lagi-lagi terendam. Di awal 2026 ini, banjir besar kembali menyapu kota-kota utama kita. Kejadian yang berulang ini, jujur saja, menunjukkan satu hal: kita belum benar-benar menyelesaikan masalah perkotaan sampai ke akarnya.
Yang mengkhawatirkan, genangan air kini tak cuma menghantui kawasan lama yang memang sudah langganan. Kawasan perumahan baru pun tak luput. Padahal, kawasan itu dibangun belasan tahun terakhir di atas lahan yang dulu adalah sawah, dataran aluvial, atau ruang terbuka produktif. Lahan-lahan yang seharusnya jadi tempat air 'bernafas'.
Memang, hujan dengan intensitas tinggi jadi pemicu utamanya. Tapi menurut sejumlah pakas, akar masalahnya justru ada di kerentanan kota yang kian menjadi. Kerentanan itu muncul karena ruang untuk air meresap hilang begitu saja. Intinya, risiko bencana melonjak bukan semata-mata soal alam murka, tapi lebih karena keputusan tata ruang yang abai terhadap ekologi.
Boedi Tjahjono (2025) pernah mengingatkan hal ini dalam kajiannya. Menurutnya, banjir sebenarnya adalah sinyal gagalnya jasa ekosistem pengatur air. Penyebabnya? Pemanfaatan ruang yang sudah tidak selaras lagi dengan karakter bentang alam.
Di sisi lain, perubahan iklim jelas memperburuk keadaan. Pola hujan sekarang sulit ditebak durasi lebih pendek, tapi intensitasnya gila-gilaan. Namun, penting untuk diingat: perubahan iklim bukanlah biang kerok tunggal. Ia lebih berperan sebagai pengganda risiko. Hujan ekstrem hanya akan berubah jadi bencana ketika jatuh di atas kota yang secara ekologis sudah rapuh, akibat alih fungsi lahan yang masif dan tak terkendali.
Artikel Terkait
Badai Kristin Hantam Portugal, Lima Nyawa Melayang dan Ribuan Rumah Gelap Gulita
Ibu di Jakarta Timur Datangi Pos Damkar, Minta Anaknya Dinasihati Petugas
Sorotan Publik: Kondisi Fisik Jokowi Diperbincangkan Usai Penampilan Terbaru
Karung Misterius di Pekarangan Cilacap Berisi Jasad Balita