Mengapa Rusdi Mappasessu Tinggalkan Kursi DPR untuk PSI yang Nihil Kursi?

- Jumat, 30 Januari 2026 | 10:00 WIB
Mengapa Rusdi Mappasessu Tinggalkan Kursi DPR untuk PSI yang Nihil Kursi?

Rusdi Masse Mappasessu resmi masuk PSI. Dia bukan yang pertama, tentu saja. Sebelumnya sudah ada Ahmad Ali dan Bestari Barus. Tapi langkah Rusdi ini lain. Dia meninggalkan kursinya di Senayan, lengkap dengan jabatan mentereng sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI posisi yang ditinggalkan Ahmad Sahroni.

Jadi, bukan cuma statusnya sebagai Ketua DPW NasDem Sulsel yang dilepas. Rusdi juga melepas jabatan publiknya. Bandingkan dengan Ali dan Barus yang memang tak sedang menjabat. Langkah mereka terlihat lebih wajar, mungkin juga ada pertimbangan lain. Tapi keputusan Rusdi? Bagi banyak orang, ini sulit dicerna akal sehat.

Lalu, apa sih daya tarik PSI? Pertanyaan ini wajar. Di satu sisi, NasDem adalah partai besar, peringkat keempat dengan 69 kursi di DPR. Selisih tipis dengan Gerindra yang punya 86. Sementara PSI? Nihil. Tak punya satu kursi pun di parlemen. Partai gurem. Tapi kok, justru di situ para tokoh ini berbondong-bondong hijrah?

Kalau ada yang bilang politisi pindah partai bukan demi posisi, tapi kenyamanan, saya agak skeptis. Rasanya terlalu muluk. Nyatanya, di mana-mana sama saja. Pola partai mencari suara pun nyaris serupa: segala cara ditempuh, termasuk politik uang dalam bentuk yang lebih halus, misal uang operasional.

Namun begitu, apa yang dilakukan PSI sekarang sebenarnya mirip dengan langkah NasDem di masa lalu. Dulu, NasDem aktif "menaungi" tokoh-tokoh dari partai lain, dengan cara halus maupun kasar. Cara kasarnya? Melalui tangan Jaksa Agung yang kebetulan kadernya. Rusdi sendiri dulu direkrut dari Golkar dan sukses menjadi peraih suara terbanyak di 2019.

Apakah ini karma buat NasDem? Bisa iya, bisa tidak. Tapi dalam politik, kata karma jarang berlaku. Yang menang biasanya yang paling lihai atau kalau mau halus, paling cerdik. Surya Paloh pasti tak tinggal diam. Dia sudah lama berkecimpung, awal dan ujung permainan biasanya sudah dia tahu. Bisa jadi dia sedang menunggu saat yang tepat, saat PSI sudah lelah. Sumber daya yang dimilikinya sangat besar untuk dimainkan.

PSI memang sedang di atas angin. Setelah Kaesang menyebut Jawa Tengah akan jadi "Kandang Gajah", kini Ahmad Ali menggaungkan hal serupa untuk Sulawesi Selatan. Padahal, Sulsel sejak dulu adalah benteng Golkar. "Pohon Beringin" di sana masih kokoh, akarnya dalam.

Sejak pertemuannya dengan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Oktober lalu, Surya Paloh seperti menghilang. Bahkan saat bencana melanda Aceh kampung halamannya ia tak terlihat.

"Ke mana Surya Paloh?" tanya sebuah unggahan di media sosial.

Seperti Gerindra, suara NasDem terus naik sejak 2014. Pertanyaannya, apakah tren ini akan terpengaruh oleh gebrakan PSI? Atau justru Paloh sedang menyiapkan kejutan besar yang belum terlihat?

(Oleh: Erizal)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler