Dia ambil kekuatan dari sana, sedikit demi sedikit. Latihan, main, tarik-tarik energi. Tujuannya satu: agar dirinya makin besar dan kuat.
Nah, di sisi lain, pemilik Ombak tampaknya mulai kebingungan. Dia merasa sudah memelihara dan membesarkan orang tua si Gajah dulu. “Jokowi adalah kita!” serunya berulang kali, seolah ingin mengingatkan siapa yang pernah membantu.
Sekarang, ombak yang dia miliki mulai rusak karena tarian si Gajah itu. Rusak dan terus terkikis.
Pertanyaannya sekarang: akankah Ombak ini akhirnya hilang ditelan zaman? Lautan politik kita memang kejam. Tidak ada kawan atau lawan yang abadi di sini.
Semuanya, pada akhirnya, cuma untuk urusan perut masing-masing…
(Azwar Siregar)
Artikel Terkait
Bocah di Cisarua: Berdiri Menunggu Teman yang Tertimbun Longsor
Senandung Belajar Kembali di SDN 101305 Usah Terendam Banjir
Niscemi Terbelah: Longsor Raksasa Sisisia Ubah Permukiman Jadi Zona Merah
Teman Seangkatan Jokowi di UGM Buka Suara: Ijazahnya Sudah Jelas Asli