Chef Prancis di Dapur Pengungsian: Dari Hotel Bintang Lima ke Panggung Kemanusiaan

- Kamis, 29 Januari 2026 | 16:06 WIB
Chef Prancis di Dapur Pengungsian: Dari Hotel Bintang Lima ke Panggung Kemanusiaan

“Saya putuskan datang untuk bantu masak,” katanya singkat.

Sebenarnya, ini bukan aksi sosial pertamanya. Selama dua bulan terakhir, pria ini sudah rutin menyumbangkan tenaganya untuk program Jumat Berkah di sekitar Bandung, dengan membuatkan roti dan berbagai hidangan.

Di dapur umum Cisarua, ia bekerja sama dengan relawan lokal. David sangat menghargai kerja keras semua orang di sini. Menurutnya, kerja tim yang solid dan perhatian pada kebersihan adalah kunci utama.

Soal menu, ia berusaha keras agar tidak itu-itu saja. Tujuannya jelas: agar para pengungsi tidak bosan. Hari itu, misalnya, ada ayam saus Inggris, ayam bumbu manis, terong balado, plus sambal.

Sedangkan untuk sarapan, mereka sudah menyantap nasi putih dengan ikan tongkol, oseng kangkung, tahu goreng, dan kerupuk. Bahkan, sehari sebelumnya, David memperkenalkan tortilla khas Spanyol. “Menunya beda-beda setiap hari,” ujarnya dengan senyum.

Dapur ini harus menyiapkan kurang lebih 2.100 paket makanan setiap harinya. Proses masak dilakukan sekali untuk setiap waktu makan, demi menjaga kesegaran dan memastikan kebutuhan semua orang terpenuhi.

Kehadiran Chef David di tengah bencana ini lebih dari sekadar soal memasak. Ia adalah bukti nyata bahwa solidaritas itu tak mengenal batas negara. Dalam setiap sendok nasi yang ia bantu sajikan, ada harapan dan semangat untuk bangkit yang coba diantarkan kepada para penyintas.


Halaman:

Komentar