Panduan bernada satire itu viral setelah diunggah oleh akun Twitter @rgoestama. Banyak yang menanggapinya dengan komentar pedas, menilai ini sebagai sindiran tajam terhadap realita penegakan hukum yang dianggap sering kali membelok.
Di sisi lain, ada juga tanggapan yang lebih sinis, mengaitkannya dengan kasus-kasus di mana pelaku kriminal justru dilindungi dengan alasan tertentu. Salah satu warganet, @igiT_0403, berkomentar singkat tapi penuh makna.
Komentar itu seperti menyoroti sebuah paradoks yang kerap terjadi di lapangan. Satir dalam "SOP" itu jelas berlebihan, namun ia menyentuh kegelisahan publik. Rasanya, ada kesan bahwa korban harus bersikap sempurna, sementara pelaku mendapat berbagai perlindungan. Ini tentu memantik diskusi panjang tentang batasan membela diri, penegakan hukum, dan rasa keadilan di masyarakat.
Pada akhirnya, panduan itu bukan untuk diteladani. Ia lebih seperti cermin, yang memantulkan sebuah kelucuan sekaligus kepahitan akan sebuah sistem yang di mata banyak orang, kadang terasa tak lagi berpihak pada korban. Lucu, tapi miris.
Artikel Terkait
Praktisi Hukum: Langkah Prabowo Gabung Dewan Trump Bisa Langgar Konstitusi
Hari Keenam Pasca-Longsor Cisarua, 41 Korban Berhasil Diidentifikasi
Markas Ormas di Medan Digerebek, Ternyata Sarang Judi Dingdong
Tanah Bergerak di Aceh Tengah, Jalan Utama dan Permukiman Warga Terancam