Bimbingan Perkawinan KUA: Bekal atau Sekadar Formalitas?

- Rabu, 28 Januari 2026 | 07:06 WIB
Bimbingan Perkawinan KUA: Bekal atau Sekadar Formalitas?

Bimbingan perkawinan di KUA? Bagi banyak orang, itu cuma formalitas belaka. Sebuah prosedur yang harus dilalui sebelum ijab kabul. Padahal, di balik sesi yang mungkin cuma sehari itu, ada bekal yang sebenarnya krusial untuk perjalanan panjang yang disebut pernikahan.

Rasanya, siapa sih yang nggak merasa siap? Cinta sudah ada, kecocokan sepertinya juga. Tapi realitanya, begitu akad selesai dan kehidupan bersama benar-benar dimulai, banyak yang baru tercengang. Persoalan uang, beda pandangan, atau cara ngomong yang saling menyakiti, perlahan tapi pasti muncul ke permukaan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa benar siap menikah sama artinya dengan siap hidup bersama, hari demi hari, dengan segala kompleksitasnya?

Lebih Dari Sekadar Sah: Tanggung Jawab Bernama Pernikahan

Dalam ajaran Islam, pernikahan punya sebutan yang berat: mitsāqan ghalīẓan. Maknanya, sebuah perjanjian kokoh nan luhur. Ini jelas bukan sekadar urusan legalitas atau status di KTP. Lebih dalam dari itu, ia adalah komitmen untuk saling menjaga, bertumbuh, dan bertahan menghadapi apa pun.

Jadi, ukuran kesiapan itu bukan cuma usia ideal atau pekerjaan yang mapan. Yang justru sering terabaikan adalah kesiapan mental dan kedewasaan emosi. Kesadaran untuk memikul tanggung jawab sebagai satu tim. Tanpa pondasi ini, rumah tangga bisa mudah goyah, meski dibangun dari niat yang tulus sekalipun.

Hal-Hal Praktis yang Justru Sering Dilupakan

Faktanya, banyak calon pengantin jauh lebih fokus pada hal-hal di luar. Persiapan pesta, desain undangan, atau hunting venue foto prewedding seolah menyita seluruh energi. Tapi persiapan diri sendiri? Seringkali ketinggalan.

Akibatnya bisa ditebak. Saat konflik rumah tangga datang dan itu pasti akan datang banyak pasangan yang malah kebingungan. Mereka tidak punya ‘tool’ untuk mengatasinya. Masalah sepele pun bisa meledak jadi pertengkaran besar, hanya karena komunikasi yang amburadul.

Ini bukan omong kosong. Lihat saja data perceraian, terutama di kota-kota besar. Akar masalahnya seringkali bukan karena cinta hilang. Tapi lebih karena pasangan belum benar-benar siap. Siap untuk berkompromi, untuk lebih sabar, dan untuk benar-benar bekerja sama.

Pada intinya, kesiapan menikah adalah soal kemampuan. Mampu memahami peran baru, mengendalikan emosi, bicara dari hati ke hati, dan tentu saja, bertanggung jawab penuh atas pilihan yang sudah diambil.

Perjalanan Panjang yang Baru Dimulai

Nah, ini poin penting. Kesiapan menikah itu bukan garis finish yang kita capai sebelum akad. Bukan. Ia justru sebuah proses belajar yang tak pernah berhenti, sepanjang pernikahan itu sendiri.

Di sisi lain, peran bimbingan perkawinan dari KUA sebenarnya cuma langkah pembuka. Titik awal untuk membangun kesadaran, agar pasangan tidak hanya mengandalkan keberanian semata.

Dengan bekal yang lebih matang, pernikahan punya peluang lebih besar untuk jadi tempat yang tenang. Bahkan lebih dari itu, ia bisa menjadi ruang yang subur bagi kedua belah pihak untuk tumbuh, bersama-sama.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar