Iran punya pesan keras buat negara-negara di sekitarnya. Jangan coba-coba bantu militer Amerika Serikat jika mereka berniat menyerang kami. Peringatan ini disampaikan Garda Revolusi Iran, atau IRGC, di tengah situasi yang makin memanas.
Latar belakangnya, AS baru saja mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan sekitar Iran. Belum lagi pangkalan-pangkalan militer mereka yang tetap kokoh berdiri di kawasan Timur Tengah. Pengerahan kekuatan tempur ini bukan tanpa alasan. Washington sepertinya sedang mempertimbangkan opsi intervensi, menanggapi aksi keras pemerintah Iran terhadap para demonstran dalam negeri.
Wakil politik pasukan angkatan laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, bersuara lantang.
"Negara-negara tetangga adalah teman kita. Tapi, kalau tanah, langit, atau perairan mereka dipakai untuk melawan Iran, ya mereka akan kami anggap musuh," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Rabu lalu.
Di sisi lain, Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, juga tak tinggal diam. Sehari sebelum peringatan IRGC, ia sudah menelepon Pangeran Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Percakapan itu ia gunakan untuk menyampaikan kecamannya.
"Ancaman dan operasi psikologis Amerika itu cuma mau ganggu keamanan kawasan. Hasilnya cuma satu: ketidakstabilan," tegas Pezeshkian, menurut pernyataan resmi dari kantornya.
Menurutnya, jalan satu-satunya ya persatuan. Hanya dengan bersatu, negara-negara Islam bisa jamin keamanan dan stabilitas yang langgeng di kawasan ini. Nada bicaranya tegas, tapi sekaligus berusaha merangkul. Situasinya memang rumit. Ketegangan dengan AS memuncak, sementara diplomasi dengan tetangga harus tetap dijaga. Semuanya berjalan berbarengan dalam ketegangan yang nyaris bisa dirasakan di udara.
Artikel Terkait
Andi Taletting Langi Resmi Pimpin IKA Ilmu Politik Unhas, Canangkan Lima Program Prioritas
Petani Papua Siap Bergabung dalam Program Cetak Sawah, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp5 Triliun
Guru Besar Hukum UI Kritik Gaya Kepemimpinan Prabowo: Presiden Dinilai Abaikan Peran Teknokrat dan Birokrasi Kemlu
Guru Besar UI Kritik Ketidakselarasan Kebijakan Luar Negeri Prabowo dengan Aspirasi Publik