Sore itu di Solo, suasana terasa tenang. Di kediaman pribadinya, mantan Presiden Joko Widodo menerima tamu istimewa: Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen. Kunjungan yang berlangsung Senin, 26 Januari 2026 itu, sengaja diatur tanpa protokol berlebihan. Gerritsen datang tanpa pengawalan, hanya ditemani satu staf, lalu langsung masuk untuk menemui Jokowi.
Pertemuan mereka berjalan santai, tertutup dari publik. Kurang lebih satu jam lamanya, di ruang keluarga yang nyaman, mereka berbincang. Menurut beberapa sumber, obrolan itu menjangkau banyak hal. Dari isu ekonomi global, kerja sama bilateral, hingga tantangan spesifik seperti perubahan iklim dan ketahanan pangan.
Usai pertemuan, Marc Gerritsen tampak bersemangat. Dia mengaku sangat terhormat bisa bertemu langsung dengan Jokowi untuk pertama kalinya.
“Kami berbicara tentang ekonomi dan tentang bagaimana Indonesia dan Eropa dapat bekerja sama lebih banyak lagi di dunia yang sedang bergejolak ini,” ujar Dubes Gerritsen.
Dia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas peran Jokowi dalam membina hubungan kedua negara. Tak lupa, dia menyinggung topik yang jadi perhatian bersama.
“Pembicaraan kami juga menyentuh kerja sama mengatasi perubahan iklim, misalnya kesiapsiagaan menghadapi banjir,” tambahnya.
Soal pangan, dia menawarkan sinergi. “Belanda punya kekuatan di produksi pangan. Kami bisa membantu Indonesia mencapai tujuan-tujuannya,” jelasnya penuh keyakinan.
Di sisi lain, ketika dijumpai awak media, Jokowi justru berusaha merendahkan tensi pertemuan itu. Dengan gaya khasnya yang santai, dia menegaskan bahwa percakapan mereka tidaklah serius-serius amat.
"Ya, bicara banyak hal tapi yang ringan-ringan," katanya sambil tersenyum.
Jokowi kembali menekankan, tidak ada pembahasan berat. “Enggak ada yang berat pokoknya,” ucapnya menanggapi desakan wartawan.
Menurutnya, kunjungan Dubes Belanda itu lebih seperti silaturahmi biasa. Kebetulan saja sang dubes sedang berada di Solo, lalu mampir. “Beliau kan pas ke Solo jadi mampir ke sini, tapi yang ringan-ringan saja,” tutur Jokowi.
Pertemuan sore itu akhirnya ditutup dengan jabat tangan dan ucapan terima kasih dari kedua belah pihak. Pihak Kedutaan Besar Belanda berharap momentum ini bisa memperkuat komunikasi, bukan hanya antara Jakarta dan Den Haag, tetapi juga dalam kerangka kerja sama Indonesia dengan Eropa secara keseluruhan. Semua bidang, kata mereka, terbuka untuk dikerjakan bersama.
Nuansa santai dan personal jelas mendominasi. Seolah, di tengah kompleksnya dinamika global, dua tokoh itu memilih untuk memulai sesuatu dari obrolan ringan di sebuah rumah di Solo.
Artikel Terkait
Ekonom: Fungsi APBN Bergeser, Danantara Kini Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
DPR Soroti Kelemahan Sistem di Balik Kecelakaan Kereta Bekasi, Dorong Evaluasi Keselamatan Total
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu
Mahfud MD Sorot Lemahnya Pengawasan Internal TNI dan Polri dalam Kasus Andrie Yunus