BEGINILAH KITA DULU MENGHADAPI RASISME
Oleh Idrus Shahab
Jakarta delapan puluh tahun yang lalu. Bayangkan. Penduduknya belum sampai dua juta, trem listrik masih merayap dari Kampung Melayu ke Glodok, membelah kota yang baru mulai berbenah. Di bioskop-bioskop Mangga Besar, cahaya layar memantulkan wajah-wajah seperti Kim Novak atau Ray Rogers. Tarzan waktu itu masih diperankan Johny Weissmuller.
Cerita ini dimulai di sebuah rumah di Pasar Lama Mester, sekarang kita kenal sebagai Jatinegara. Hari keenam belas setelah Imlek, atau dua hari pasca Cap Go Meh. Di ruang tengah, asap hio mengepul pekat. Para sesepuh keluarga sibuk membakar kertas persembahan di depan altar, tempat foto leluhur dan papan nama diletakkan dengan khidmat.
Di atas altar, lima piring penuh berisi kue manis dan buah-buahan. Hasil tabungan keluarga berbulan-bulan. Dan yang tak boleh ketinggalan, sepasang ikan bandeng terhidang di sana. Ikan itu semacam ketupat saat Lebaran, wajib ada di perayaan Sin Cia. Tapi mendapat bandeng terbaik bukan perkara gampang.
Di Betawi yang sedang berubah cepat, tempat terbaik membelinya ya di Pasar Malam Jalan Toko Kaki Tiga, dekat Pancoran, Glodok. Hiruk-pikuknya luar biasa.
Sastrawan Firman Muntaco pernah menggambarkan suasana itu dalam cerpennya. “Sincia tinggal dua hari lagi,” tulisnya. Ratusan orang membanjiri pasar dari segala penjuru: Tongkanpan, Jelaking, Roa Malaka, dan kampung-kampung lainnya. Ucapan selamat tahun baru berseliweran. Duit mengalir tak jadi soal, yang penting perayaan dan sembahyang bisa dilakukan dengan lengkap dan gembira. Buah-buahan mahal seperti apel dan anggur pun dibeli, sebagai harapan akan berkah dari Cau Kun Kong, dewa dapur.
Begitulah Jakarta di era 1930-an.
Nah, masuklah waktu Cap Lak Me, hari keenam belas itu. Selepas salat Asar, rombongan pemain tanjidor dan gambang kromong mulai terlihat di kawasan Mester. Mereka baru saja manggung di kelenteng dan rumah-rumah orang Tionghoa kaya di Glodok dan Senen. Kebanyakan berasal dari Bekasi atau Tangerang, tangan mereka penuh dengan terompet, trombon, tambur, dan simbal.
Menurut budayawan Ridwan Saidi, jadwal para musisi Betawi ini luar biasa padat di sekitar Cap Go Meh. Tanggal 13, 14, 15 mereka main di Glodok. Senen dapat giliran tanggal 15. Terakhir, Jatinegara di hari ke-16.
Mereka mulai memainkan alat musiknya sebelum matahari terbenam. Tapi “sihir”-nya baru benar-benar terasa saat malam tiba dan purnama bersinar. Massa pun berdatangan, ngibing mengikuti irama. Rombongan musik ini berjalan dari kelenteng ke jalan raya, lalu berhenti di halaman rumah-rumah Tionghoa yang mampu. Angpau dan kue dodol terbaik jadi imbalan untuk mereka.
Inilah pesta rakyat yang spontan. Orang Betawi dan Tionghoa menari bersama, larut dalam gendang dan tambur. Etnis dan kelas sosial tak lagi jadi soal. Suatu kemewahan yang sulit dibayangkan di tengah masyarakat yang kini terkotak-kotak oleh politik identitas, bahkan oleh rasisme yang merayap dalam demokrasi kita. Semua bergembira. Kecuali mungkin para copet yang sibuk mencari dompet di kerumunan orang yang sedang lengah.
Masyarakat waktu itu kreatif. Mereka punya cara sendiri untuk mementahkan politik rasis pemerintah Hindia Belanda, yang berusaha menghalangi integrasi.
Banyak pelajaran bisa diambil dari era 30-an. Di tingkat elite pers, misalnya, ada tiga serangkai yang solid: AR Baswedan, dokter Soetomo, dan Liem Koen Hian. Mereka bahu-membahu melawan rasisme yang menyusup dalam pencarian identitas nasional.
Artikel Terkait
Saksi Bongkar Setoran Non-Teknis untuk Biaya Dinas Luar Negeri Atasan
KPK Bongkar Aliran Uang Travel Haji ke Oknum Kemenag
KPK Selidiki Pengepul Dana Kuota Haji di Balik Skema Kemenag
Mobil Selamat dari Reruntuhan, Kisah Hussein Mengantar Harapan di Gaza