Tito Karnavian Desak Relokasi dan Reboisasi Usai Longsor Pasirlangu

- Minggu, 25 Januari 2026 | 19:48 WIB
Tito Karnavian Desak Relokasi dan Reboisasi Usai Longsor Pasirlangu

Minggu lalu, suasana di Desa Pasirlangu, Bandung Barat, masih muram. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian hadir di tengah reruntuhan tanah longsor, menyaksikan langsung dampak bencana yang merenggut nyawa itu. Dari inspeksi lapangan inilah, Tito menyerukan langkah serius. Ia mendesak agar relokasi warga dan penataan ruang di kawasan rawan bencana dipercepat. Bagi dia, ini adalah solusi jangka panjang yang tak bisa ditawar lagi.

“Saya turut berduka,” ujar Tito, suaranya terdengar berat.

“Atas musibah ini, ada yang wafat, kemudian juga ada yang masih hilang dalam pencarian.”

Keprihatinannya jelas terasa. Namun begitu, ia juga mencoba menganalisis akar masalahnya. Hujan deras memang pemicu, tapi bukan satu-satunya. Struktur tanah di wilayah perbukitan itu sendiri sudah bermasalah gembur dan kurang kokoh. Beban sedikit saja bisa membuatnya amblas.

Di sisi lain, ada faktor lain yang memperparah keadaan. Perubahan lanskap di bukit-bukit sekitar. Dulu, tanaman keras berakar kuat mendominasi. Kini, banyak yang beralih fungsi jadi lahan hortikultura dan sayur-mayur.

“Tanaman pelindungnya yang akarnya menancap ke dalam ya, yang bisa memperkuat struktur tanah itu, banyak berganti hortikultura,” jelasnya.

“Nah itu membuat rentan sekali kalau terjadi hujan deras.”

Untuk saat ini, fokus utama tetap pada penanganan darurat. Pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang terdampak jadi prioritas. Tito mengapresiasi kerja sama yang terjalin. Semua pihak, mulai dari Pemda, TNI-Polri, hingga relawan dan pemerintah pusat, terlihat bergerak bersama.

“Dari Pak Gubernur, kemudian dari Pak Bupati, jajaran, TNI, Polri, relawan, pemerintah pusat, semua bergerak untuk membantu,” ungkapnya.

Tapi ia tak mau berhenti di situ. Visinya jauh ke depan. Wilayah bekas longsor ini dinilainya sudah tidak layak huni. Relokasi warga ke tempat yang lebih aman adalah keharusan. Itu satu-satunya cara menjamin keselamatan mereka ke depannya.

Langkah berikutnya? Reboisasi. Menanam kembali pohon-pohon berakar kuat untuk mengikat tanah. Tanpa itu, kata Tito, risiko longsor berulang akan selalu mengintai.

“Ini harus direboisasi, ditanam. Tanaman-tanaman yang akarnya yang keras, supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali,” tegasnya.

“Kalau kembali lagi nanti akan longsor lagi.”

Lebih dari sekadar penanganan satu lokasi, peristiwa Pasirlangu ini harus jadi pelajaran berharga. Bagi Tito, ini alarm keras untuk seluruh daerah di Indonesia. Pentingnya tata ruang yang kuat dan pemetaan wilayah rawan bencana tak boleh lagi diabaikan.

“Ini juga menjadi pelajaran bagi kita untuk daerah-daerah lain, untuk memperkuat tata ruang. Daerah-daerah rawan seperti ini harus kita petakan,” katanya.

Pemetaan itu, lanjutnya, harus dilakukan secara nasional dan menyeluruh. Setiap Bupati, Wali Kota, dan Gubernur diminta proaktif mengidentifikasi kerawanan di wilayahnya masing-masing. Tujuannya jelas: mengantisipasi bencana hidrometeorologi di masa datang.

“Setiap Bupati, Wali Kota, Gubernur harus kita petakan secara nasional,” tandas Tito.

“Untuk kita memikirkan potensi kalau terjadi kerawanan hidrometeorologi seperti ini, hujan lebat, hujan deras.”

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler