Kemana Perginya 200 Triliun dari Menkeu Kita?
Oleh: William Win Yang
Business Strategist – Best Selling Book Author
Sudah berapa bulan sejak menteri keuangan kita yang baru dilantik? Waktu itu, janjinya masih terngiang. Dalam tiga bulan, katanya, anak-anak muda tak akan mau lagi ke luar negeri. Lapangan kerja akan melimpah di sini, bisnis bakal meroket, dan seterusnya. Kini? Realitanya jauh berbeda.
Mari kita ingat-ingat lagi. Ada dana segar 200 triliun rupiah yang diinjeksikan ke perbankan. Tujuannya mulia: untuk disalurkan ke sektor usaha, terutama UMKM, agar roda ekonomi berputar lebih kencang. Secara logika, masuk akal. Tapi coba lihat sekarang. Jeritan pengusaha dan rakyat kecil tak juga reda. Gelombang PHK masih terjadi. Lalu, uang yang 200 triliun itu ke mana, ya?
Oh iya, ada yang bilang ekonomi kita tumbuh 5%. Seharusnya, dengan angka segitu, bisnis bertumbuh dan lapangan kerja terbuka lebar. Kenapa kita tidak merasakannya? Apakah dananya dikorupsi? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tapi kalau mau ditebak, kemana arah aliran dana segitu besar? Jawabannya mungkin ada di pasar modal.
Betul. Pasar modal: saham, crypto, dan sejenisnya.
Ah, masa sih? Bukannya bank dilarang berinvestasi spekulatif seperti itu? Memang ada aturannya. Tapi di pasar modal, banyak ilmu 'sulap' yang bisa dipakai. Kurang lebih begini skenarionya.
Dana 200 triliun masuk ke bank dengan mandat jelas: salurkan ke bisnis, utamanya UMKM. Bunganya ringan, cuma 4%, bahkan untuk UMKM diklaim hanya 2%. Bank pun dihadapkan pada dilema. Mau salurkan ke mana? Kondisi ekonomi sedang tidak bersahabat. Risiko gagal bayar tinggi. Kalau macet, yang rugi dan kena sanksi ya bank itu sendiri. Tapi dana harus disalurkan, itu kewajiban.
Jadi, sebagai seorang bankir, apa yang mungkin dilakukan? Panggil nasabah besar terbaik. Sebut saja nama-nama seperti Anthony Salim atau Prajogo Pangestu. Lalu tawarkan pinjaman murah ini. "Ayo, Pak. Bunganya cuma 4%. Bantu-bantu kami," kira-kira begitu.
Si taipan tentu bingung. "Buat apa? Bisnis lagi sepi. Ekspansi sekarang malah bisa buntung."
Bank mungkin membujuk, "Sudah ambil saja, yang penting cair dan lancar bayarnya." Ini cuma ilustrasi, tentu saja.
Anggap saja pinjaman itu diambil. Lalu uangnya dipakai untuk apa? Bangun pabrik? Ekspansi? Rasanya tidak masuk akal di kondisi sulit. Mereka bisa terjebak utang. Jadi, pilihannya? Pertama, bisa dialihkan ke surat utang pemerintah. Bunganya sekitar 7%. Pinjam dari bank 4%, lalu beli SBN yang bagi hasil 7%. Lumayan dapat spread.
Tapi kan instrumen surat utang negara juga terbatas. Nah, sisa dana yang belum terserap itu kemana? Mengalir ke pasar modal. Dipakai untuk 'menggoreng' saham. Akibatnya, indeks melambung tinggi. Inilah yang mungkin mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi. Tumbuhnya di mana? Ya, di pasar modal. Di atas, bukan di lapangan.
Bagi yang belum paham makna pertumbuhan ekonomi, silakan cek artikel saya lainnya.
Intinya, mungkin pertumbuhan ekonomi itu ada. Tapi sifatnya timpang. Hanya dinikmati segelintir orang yang bermain di pasar aset. Sementara sektor riil di bawah tetap terpuruk.
Fenomena ini punya namanya: "K-Shaped Recovery".
Seperti huruf K, pemulihannya bercabang dua. Satu cabang melesat naik, sementara cabang lainnya justru terjun bebas. Itulah gambaran yang mungkin sedang kita alami sekarang.
Artikel Terkait
BMKG: Sulsel Berawan, Siang Berpotensi Hujan Ringan pada 23 April
Peneliti Soroti Penurunan Skor Demokrasi Indonesia di Awal Pemerintahan Prabowo
ART di Maros Diamankan Usai Curi Cincin Emas dan Uang Majikan
Banjir Bandang di Kendal, Truk Pengangkut Batu Terseret Arus Kali Bodri