Pertemuan di Braga: Saat Dua Sisifus Berbicara tentang Ilusi

- Selasa, 20 Januari 2026 | 05:06 WIB
Pertemuan di Braga: Saat Dua Sisifus Berbicara tentang Ilusi

Bandung selalu jadi kota impian Mearsault. Sejak kecil, dia terpikat kisah Sangkuriang yang legendaris itu. Bayangannya, perempuan Sunda semuanya seperti Dayang Sumbi cantik jelita dan hidup cuma dari tanaman mentah. Imaji itu tertanam begitu dalam, jauh lebih kuat ketimbang kenyataan bahwa banyak artis nasional memang berasal dari Jawa Barat.

Ngomong-ngomong soal keyakinan, Mearsault itu pengagum berat Albert Camus. Baginya, tulisan Camus semacam pengesahan. Hidup ini memang absurd, meragukan segalanya itu wajar, dan mengejar nilai-nilai moral? Kekonyolan belaka. Daripada pusing mencari hikmah yang mungkin tak ada, mending dijalani dengan riang. Mirip Sisifus menjalani hukumannya; kita menggelindingkan batu kita masing-masing.

Dalam pengantar Caligula, Camus pernah menulis sesuatu yang provokatif. Katanya, usia dua puluhan adalah masa di mana seseorang meragukan segala hal, kecuali dirinya sendiri.

Benar juga. Di usia itu kita merasa jadi pusat dunia. Tak ada ketakutan yang benar-benar menghancurkan. Semua hal, sekalipun berbahaya, berani kita terjang.

Maka, pelanggaran norma-norma sosial seringkali cuma bentuk ketaatan ekstrem pada satu kebenaran pribadi. Seorang seniman, misalnya, merasa dunia seni tak boleh dikungkung batasan. Nilai? Itu cuma soal sudut pandang. Sangat subjektif.

Pertemuannya dengan perempuan itu terjadi di Braga, pada sore yang ramai. Mearsault melihatnya duduk termangu di bangku trotoar yang kosong, menatap riuhnya jalan Asia Afrika. Dia makan jajanan dari bungkus plastik bening. Baju kaos hitam bergambar band metal, rambut terurai dibiarkan diterpa angin. Wajahnya lusuh, tapi tetap memancarkan pesona khas perempuan Sunda jelita dan menawan.

Kawasan Braga sore itu memang sesak. Penuh anak muda yang sibuk mencari eksistensi, memotret diri dengan latar sunset untuk diunggah ke Instagram. Caption-nya beragam, tapi semuanya patuh pada suasana hati.

Dia seperti perempuan yang sedang menunggu. Sebuah diri yang menghilang, menjadi ‘liyan’. Terlihat sepii, tapi sebenarnya tidak sendirian. Setiap kali bergeser, bangku kayu yang lapuk itu berderik. Seolah mengeluh menahan beban usia dan kesunyian.

Mearsault merasa menemukan cermin dirinya pada perempuan itu. Tenang di luar, tapi di dalam kepala pastilah terjadi perdebatan panjang yang tak kunjung usai. Seperti orang yang menggugat segalanya, bahkan eksistensi Yang Maha Kuasa.

“Kau sedang bercakap dengan Tuhan?” tanya Mearsault, mencoba memulai percakapan.

“Aku percaya pada apa yang ada di kepalaku. Pada kesadaran yang harus diperjuangkan. Sudah tujuh jam aku duduk di sini. Mungkin cuma sepuluh menit aku benar-benar sadar. Selebihnya? Ilusi.”

“Bukankah sebagian besar hidup memang begitu?” sahut Mearsault.

Perempuan itu lalu menatapnya. Matanya berbinar. Dagunya terangkat, dan segera Mearsault dibombardir dengan rentetan pertanyaan yang melumat kesadarannya.

“Saat kau tanya ‘apa yang ada di pikiranku?’, apa kau sadar dengan semua pertanyaanmu itu? Atau itu cuma basa-basi sosial, pengisi kekosongan agar kita tidak saling merasa asing?”
Aku akan ceritakan alegori gua Plato. Kita semua terikat di dalam gua sejak lahir. Punggung kita menghadap pintu keluar. Yang kita lihat cuma bayangan di dinding, gerak semu, pantulan cahaya. Ilusi. Tapi kita sebut itu kenyataan.
Kesadaran palsu, kata Marx.
Selebihnya cuma pertimbangan sosial. Kau seperti orang tersesat di padang pasir, terus bertanya arah. Bukan karena kau benar-benar ingin tahu jalan keluar, tapi karena takut pada kesunyian. Pertanyaan jadi oasis palsu. Kita minum darinya, meski tahu itu fatamorgana.

Lalu dia diam sejenak. Suasana sore semakin merayap.

Nanti kita akan pulang ke kos masing-masing. Menerima bahwa hidup memang cara semesta menyiksa kita. Tapi dari setiap penyiksaan, kita punya pilihan: menjadi Sisifus yang pasrah, atau memberontak terhadap kehidupan yang absurd ini.

Percakapan terputus. Angin sore berhembus lebih kencang, menerbangkan sampah plastik di trotoar. Mearsault hanya bisa mengangguk pelan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar