Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar pemerintah ternyata menyisakan pekerjaan rumah yang besar. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap fakta yang cukup mencengangkan: dari sekitar 6 juta peserta yang terdeteksi hipertensi, hanya 191 ribu orang saja yang tekanan darahnya berhasil dikendalikan. Angka itu tentu jauh dari harapan.
“Nah kita coba jalankan di beberapa puskesmas, ya prestasinya belum bagus. Dari 6 juta yang hipertensi, yang terkendali baru 191 [ribu],” ujar Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Padahal, konsekuensinya serius. Menurut Budi, membiarkan hipertensi tanpa penanganan selama bertahun-tahun adalah bom waktu. Risiko stroke dan serangan jantung mengintai.
“Orang hipertensi ini didiemin 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun jadi stroke, jadi jantung, wafat. Tapi kalau ketahuan dini, diobatin setiap hari, terkendali, dia bisa hidup sehat, nggak usah ke rumah sakit,” tegasnya.
Pernyataannya ini punya dasar yang kuat. Di Indonesia, penyakit kardiovaskular masih jadi pembunuh nomor satu. Namun begitu, kabar baiknya adalah pencegahan itu mungkin. Kuncinya ada pada pengendalian faktor risiko utamanya.
“Kardiovaskular sebagai penyebab kematian utama, yaitu stroke sama jantung. Kalau kita bisa kontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, itu penelitian menyebutkan bisa menurunkan prevalensi antara 30 sampai 50 persen,” jelas Budi.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘terkendali’? Bukan sekadar dapat obat. Budi membeberkan kriteria yang harus dipenuhi: pasien harus rutin minum obat, lalu dipantau secara berkala. Jika dalam dua kali pemeriksaan berturut-turut tekanan darahnya normal, barulah status itu diberikan.
Target pemerintah pun ambisius. Dari 6 juta orang tadi, mereka ingin 90 persennya mencapai status terkendali. “Ini yang tahun ini kita akan lakukan. Dengan memberikan obat generik murah di puskesmas,” tuturnya.
Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah diabetes. Dari hasil CKG, tingkat pengendalian gula darah dinilai masih sangat rendah. Padahal, dalam istilah yang digunakan Budi, kondisi ini adalah ‘mother of all diseases’, biang dari banyak penyakit kronis.
“Nah itu diberikan obat sama, dikasih Metformin setiap hari dia minum, yang terkendali tuh masih rendah sekali, 6.736,” ungkapnya.
Pada akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu tujuan: mendorong deteksi dini dan pengobatan yang konsisten. Logikanya sederhana, lebih baik mengobati sejak dini di puskesmas daripada menanggung biaya rumah sakit yang mahal, atau bahkan kehilangan nyawa.
“Jadi orang yang sudah ada gejala-gejala atau faktor risiko kardiovaskular, itu langsung kita obatin sehingga tidak usah masuk rumah sakit, tidak usah stroke, tidak usah kena serangan jantung ya,” pungkas dia.
Jalan masih panjang. Data dari CKG itu seperti lampu peringatan. Sekarang, tinggal bagaimana aksi nyata menyusul.
Artikel Terkait
Danau Matano, Danau Purba Terdalam di Asia Tenggara, Jadi Surga Tersembunyi di Luwu Timur
KTNA Dukung Swasembada Pangan, Siap Hadapi El Nino dengan Inovasi
Wali Kota Makassar Larang Pungutan Biaya Perpisahan Sekolah, Ancaman Sanksi untuk Kepsek
Geng Motor Bersenjata Samurai Teror Warung di Maros Dini Hari