Dunia yang sarat tekanan dan kompetisi ini memang kejam. Sugiono memperingatkan, negara yang tak punya strategi yang jelas bakal mudah terseret arus. Sementara, negara yang ketahanannya lemah akan rentan dieksploitasi oleh pihak lain.
“Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi objek,” katanya tegas.
Indonesia, tentu saja, tidak boleh jatuh ke posisi pasif semacam itu. Sugiono menekankan pentingnya melihat realitas global secara jujur. Tanpa ilusi, tapi juga tanpa pesimisme berlebihan. Diplomasi Indonesia kedepan harus diarahkan pada tiga hal: kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme.
Diplomasi yang realistis ini bukan berarti meninggalkan nilai-nilai luhur. Bukan. Tapi lebih pada menyesuaikan pendekatan dengan ancaman dan peluang yang terus berkembang. Ancaman sekarang nggak datang tunggal, dan krisis pun seringnya berbarengan, bukan datang satu-satu.
“Kita harus melihat dunia apa adanya,” pungkas Sugiono.
“Dunia yang keras, kompetitif, dan semakin tidak terprediksi. Oleh karena itu, diplomasi kita harus dibangun atas kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme. Karena dinamika di luar negeri, cepat atau lambat, akan terasa dampaknya dalam kehidupan kita sehari-hari.”
Pernyataan Menlu ini disampaikan dalam konteks global yang memang sedang memanas. Beberapa kejadian belakangan ini, seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS awal Januari lalu, dan isyarat serangan AS ke Iran dari Presiden Donald Trump, seolah mengonfirmasi betapa tegangnya situasi internasional saat ini.
Artikel Terkait
Al Nassr Bangkit dari Ketertinggalan, Raih Kemenangan 3-1 Berkat Gol Bunuh Diri Lawan dan Al Hamdan
Bayern Munich Kalahkan Borussia Dortmund 3-2 dalam Laga Sengit Der Klassiker
Prabowo: Kebersamaan Imlek dan Ramadhan Wajah Asli Indonesia
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan, 1 Maret 2026