Empat Inovasi Siswa Medan Sabet Medali di Ajang Bergengsi Thailand

- Rabu, 14 Januari 2026 | 20:42 WIB
Empat Inovasi Siswa Medan Sabet Medali di Ajang Bergengsi Thailand

Medan patut berbangga. Baru-baru ini, siswa-siswi SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Mereka pulang dari Thailand dengan membawa empat medali dari ajang International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEX) yang digelar awal Januari lalu. Dua perak dan dua perunggu berhasil mereka kumpulkan.

IPITEX sendiri bukan ajang sembarangan. Ini adalah pameran sekaligus kompetisi bergengsi yang mempertemukan penemu dan inovator dari berbagai negara untuk memamerkan karya-karya terbaik mereka.

Kepala SMP YPSA, Linda Hariati Siregar, mengungkapkan bahwa persiapan untuk lomba ini tidak singkat. Butuh proses panjang sekitar lima bulan.

"Anak-anak mempersiapkannya kurang lebih sekitar 4-5 bulan. Itu mulai dari persiapan apa yang akan diteliti, kemudian mencari jurnal-jurnal yang terkait dengan penelitian anak-anak,"

kata Linda saat kami temui di kantornya, Rabu lalu.

Menurutnya, sebanyak 27 siswa diterjunkan ke ajang di Thailand itu. Mereka dibagi dalam empat tim, dan masing-masing tim berhasil membawa pulang medali.

Tim pertama menyabet medali perak berkat inovasi bernama Friendcil. Apa itu? Friendcil adalah pensil warna ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakunya berasal dari biokomposit bagas tebu dan eceng gondok, ditambah fitopigmen alami serta ekstrak aromatik khas Sumatera Utara.

"Friendcil itu merupakan inovasi pensil warna berbahan dasar dari tanaman pigment sintesis. Berupa tanaman enceng gondok, tanaman tebu, kemudian menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan,"

ujar Linda menerangkan.

Medali perak kedua datang dari tim dengan inovasi Soulmeat. Produk ini adalah daging analog berbahan dasar tumbuhan, khususnya labu, yang dikemas sebagai pangan bergizi tinggi untuk membantu mencegah anemia.

"Mereka membuat daging, tetapi berbahan dasar dari tanaman labu. Jadi, Soulmeat ini untuk mencegah penyakit anemia,"

ucapnya.

Di sisi lain, dua tim lainnya berhasil meraih medali perunggu. Salah satunya lewat karya Eleaftricity. Inovasi ini cukup cerdas, mengeksplorasi pewarna alami dari tanaman endemik Sumut seperti daun singkong dan andaliman sebagai fotosensitizer murah untuk Sel Surya Sensitif Pewarna (DSSC).

"Ini merupakan solar panel ya. Jadi, solar panel ini bisa dibuat untuk menghasilkan energi terbarukan, energi listrik,"

kata Linda.

Medali perunggu terakhir diraih berkat Spraydom. Inovasi ini hadir sebagai solusi nonfarmakologis untuk insomnia. Alih-alih obat kimia, Spraydom menawarkan aromaterapi dalam bentuk spray yang dikombinasikan dengan sistem manajemen tidur digital.

"Spraydom ini merupakan aromaterapi dalam bentuk spray. Anak-anak membuatnya dengan lima aromaterapi yaitu kecombrang, jeruk purut, aroma serai dan aroma melati. Jadi, aromaterapi ini mengobati insomnia,"

imbuh Linda.

Prestasi ini tentu bukan kebetulan. Linda menjelaskan bahwa sekolahnya telah memiliki ekstrakurikuler penelitian khusus yang berjalan setiap Sabtu. Di sana, para siswa dibimbing oleh guru-guru yang sudah berpengalaman di bidang riset.

Yang menarik, beberapa inovasi ini sudah sangat matang. Produk Soulmeat, misalnya, bahkan sudah memiliki hak paten dan sertifikat halal dari MUI.

"Jadi, semua bahan-bahan yang diteliti oleh anak-anak untuk dilombakan, kita sudah buat juga uji Laboratoriumnya. Kemudian, juga mendapatkan sertifikat halal untuk makanannya,"

katanya.

Lantas, apakah produk-produk ini akan dijual? Linda menyebut kemungkinan itu terbuka.

"Untuk sekarang mungkin belum diperjualbelikan karena anak-anak juga masih dalam tahap belajar gitu ya. Tapi, tidak menutup kemungkinan, karena kita juga sudah buatkan hak patennya. Pastinya untuk kedepannya akan dilakukan proses "selling"-nya,"

ucapnya.

Ke depan, Linda bertekad untuk terus mendorong kreativitas anak didiknya. Dia tak ingin berhenti di sini.

"Kita berupaya untuk meningkatkan minat dan bakat anak-anak kita di sini, untuk menampung kreativitas mereka. Pastinya, kita akan ajak anak-anak untuk mengikuti ajang-ajang internasional lainnya,"

tutupnya penuh semangat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar