"Saya datang ke sana, koleksinya disimpan di satu ruangan tanpa pendingin; lembap. Kita tahu kondisi kelembapan tinggi di Indonesia, buku harus dirawat," tutur Bonnie.
Di sisi lain, perhatiannya juga tertuju pada warisan intelektual para pendiri bangsa. Bonnie secara khusus menyebut perpustakaan pribadi Bung Hatta di Jalan Proklamasi, yang terletak di lantai dua rumahnya, dan koleksi buku Bung Karno yang tersebar.
"Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta ini juga tolong diperhatikan," pinta dia.
"Sebagian buku Bung Karno ada di Istana Bogor, sebagian ada di Balai Kirti. Itu buku-buku yang beliau bawa ketika diasingkan," jelasnya.
Ia mendorong agar koleksi bersejarah itu bisa diakses publik, mungkin lewat koordinasi yang lebih baik antara Perpusnas dan Balai Kirti.
Tak lupa, Bonnie yang pernah menjadi kurator di Rijksmuseum Amsterdam itu menyentuh isu repatriasi. Ia apresiasi upaya pemulangan 42 naskah kuno dari Australia, peninggalan almarhum Timothy Behrend. Langkah itu ia nilai sebagai bagian dari dekolonisasi pengetahuan. Tapi, pertanyaan besarnya justru ada di kemudian hari.
Artikel Terkait
Gibran dan Sejumlah Pejabat Beri Angpao ke Barongsai di Puncak Imlek 2026
Drama Injury Time, Brentford Tumbangkan Burnley 4-3 di Liga Premier
Kevin Diks Cetak Gol Penalti Injury Time, Bawa Gladbach Kalahkan Union Berlin
Iran Lancarkan Serangan Rudal Balistik ke Aset Militer AS dan Israel di Timur Tengah