Bayi Lahir di Teras Musala, Warga Turun Tangan Saat Ibu Tak Sempat ke Bidan

- Rabu, 14 Januari 2026 | 18:54 WIB
Bayi Lahir di Teras Musala, Warga Turun Tangan Saat Ibu Tak Sempat ke Bidan

Pagi itu, di teras sebuah musala di Palembang, sebuah kehidupan baru datang ke dunia. Seorang ibu, NR (32), tak kuasa lagi menahan kontraksi yang menggila. Dia akhirnya melahirkan di lantai teras, jauh dari bidan atau rumah sakit yang dia tuju.

Sebenarnya, rasa mulas sudah datang sejak malam sebelumnya. Tapi NR ragu. Masalahnya klasik: belum ada biaya. Dia dan suaminya, SK (40), bertahan sampai pagi, berharap rasa sakitnya mereda. Nyatanya tidak. Akhirnya, dengan menumpang motor tetangga, mereka berangkat juga Senin (12/1) pagi itu.

Namun begitu, perjalanan mereka terpaksa berhenti di tengah jalan. Kontraksi hebat datang disertai pecah ketuban. Mustahil melanjutkan perjalanan.

Suaminya panik, berlari mencari pertolongan warga. Sementara NR, yang nyaris tak bisa berdiri, dituntun menuju teras Musala Al Ikhlas di Jalan KH Balqi. Dia cuma bisa berbaring di sana, menahan sakit sambil berharap bantuan cepat datang.

Tapi situasinya berubah cepat. Menurut sejumlah warga yang membantu, bukaan sudah lengkap. Bayinya akan lahir, dan tak ada waktu untuk membawanya ke mana pun. Di sinilah solidaritas warga bekerja.

Tanpa alat medis, mereka bergerak. Kain dan pakaian seadanya disiapkan. Dengan penuh kehati-hatian, mereka membantu proses persalinan yang mendebarkan itu. Dan tak lama kemudian, tangis bayi perempuan memecah ketegangan. Anak kelima pasangan ini lahir dengan selamat. Suasana haru pun menyebar.

Bidan Rahayu tiba beberapa saat setelahnya. Dia segera mengambil alih, memotong tali pusar, dan memberikan perawatan pascapersalinan. Bayi dibawa ke praktiknya untuk penanganan lebih lanjut. Syukurlah, sang ibu dalam kondisi stabil.

Erlita, salah satu warga, menggambarkan momen itu sebagai pengalaman menegangkan yang tak terlupakan.

“Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dibawa ke mana-mana. Kami lakukan sebisanya, yang penting ibu dan bayinya selamat,”

katanya, Selasa (13/1).

Kisah ini pun viral, menyentuh banyak hati. Tapi di baliknya, tersimpan masalah yang runyam. Kasmah, tetangga mereka, mengungkapkan persoalan yang dihadapi keluarga ini. NR tak punya BPJS, KTP-nya hilang, begitu juga Kartu Keluarga. Ekonomi mereka serba sulit.

“Kalau suaminya itu kerja serabutan,”

ujar Kasmah.

Menariknya, ada fakta yang terlewat. Bidan Rahayu kemudian menyebut, dari pemeriksaan Puskesmas, NR sebenarnya punya Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang aktif. Hanya saja, karena bermasalah dengan administrasi KK, keluarga ini sendiri tidak mengetahuinya.

“Jadi sudah anak keempat ini tidak punya KK dengan suami yang baru, adapun kondisi bayinya sehat,”

kata Bidan Rahayu.

Jadi, di satu sisi, kita melihat kekuatan luar biasa dari gotong royong warga. Di sisi lain, cerita ini adalah pengingat pedas. Betapa akses informasi dan layanan kesehatan yang merata masih menjadi barang mewah bagi sebagian orang. Sebuah bayi selamat lahir di teras musala, bukan hanya karena pertolongan manusia, tapi juga meski berhadapan dengan sistem yang rumit.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar