"Kita harus apresiasi pada Pandji yang mampu mengumpulkan 10.000 orang penonton dan membayar rata-rata di atas Rp1 juta," tegasnya.
Konteks waktu acara itu digelar justru mempertegas pencapaiannya. Bayangkan, sore harinya suasana di sekitar Senayan sedang ramai-ramainya karena demo. Namun begitu, puluhan ribu orang tetap memilih datang untuk menonton komedi.
"Artinya apa? Mereka tetap punya keberangan untuk datang menitipkan aspirasi mereka dalam bentuk komedi," lanjut Miing.
Dia lalu membandingkannya dengan dunia politik, dengan nada sedikit sinis. Untuk mengerahkan massa sebanyak itu, sebuah partai harus mengeluarkan dana ratusan miliar. Di sini, justru sebaliknya. Penonton yang rela merogoh kocek dalam-dalam.
"Komedi tidak pernah berdiri sendiri, datang 10.000 (penonton). Partai politik untuk ngumpulin 10.000 harus ratusan miliar keluar duit untuk ngongkosin orang. Ini mereka datang 10.000 dan membayar, ini sesuatu," pungkasnya.
Artikel Terkait
Senior Residen Unsri Terancam DO Usai Pungli dan Eksploitasi Mahasiswi
Kesederhanaan yang Dijual, Dinasti yang Diraih: Potret Keluarga Pejabat di Mata Tere Liye
Siswa SMA Taruna Nusantara Ungkap Kesan Bertemu Presiden Prabowo
Gus Irfan Luncurkan Haji Ramah Perempuan, Petugas Wanita Ditambah Signifikan