Saat kota Acre menyerah, misalnya, ia sudah berjanji akan mengampuni penduduknya. Tapi apa yang terjadi? Janji itu dilanggar begitu saja. Pembantaian berlangsung, menelan korban tak bersalah perempuan, anak-anak, semuanya.
Perilaku kedua pemimpin ini meninggalkan bekas yang dalam. Bukan cuma di medan perang, tapi juga dalam ingatan sejarah.
“Pasukan Muslim sangat murah hatinya saat kemenangan seperti kegigihannya dalam pertempuran. Warga sipil diselamatkan; gereja dan tempat suci dibiarkan utuh. Perbedaan mencolok dalam perilaku militer diwujudkan oleh dua tokoh dominan Perang Salib: Salahuddin dan Richard si Hati Singa. Salahuddin yang ksatria setia pada janjinya dan berbelas kasih terhadap warga sipil. Sementara Richard saat menerima ketundukan Acre (wilayah di Palestina), dia melanjutkan pembantaian terhadap penduduknya, termasuk wanita dan anak-anak, meskipun telah berjanji sebaliknya.”
-John L. Esposito, Profesor Senior Agama, Universitas Georgetown
Artikel Terkait
Antrean Truk Berebut Solar Akan Jadi Kenangan pada 2026
Enam Miliar Sehari vs Jerih Payah Rakyat: Cuitan Bang Edi yang Bikin Sesak
Teheran Gelar Unjuk Rasa Besar-besaran, Jawab Protes dengan Ancaman ke AS
Dua Wajah Jalan di Perbatasan Banten-Jabar, Warga: Seperti Dua Dunia