Saat kota Acre menyerah, misalnya, ia sudah berjanji akan mengampuni penduduknya. Tapi apa yang terjadi? Janji itu dilanggar begitu saja. Pembantaian berlangsung, menelan korban tak bersalah perempuan, anak-anak, semuanya.
Perilaku kedua pemimpin ini meninggalkan bekas yang dalam. Bukan cuma di medan perang, tapi juga dalam ingatan sejarah.
“Pasukan Muslim sangat murah hatinya saat kemenangan seperti kegigihannya dalam pertempuran. Warga sipil diselamatkan; gereja dan tempat suci dibiarkan utuh. Perbedaan mencolok dalam perilaku militer diwujudkan oleh dua tokoh dominan Perang Salib: Salahuddin dan Richard si Hati Singa. Salahuddin yang ksatria setia pada janjinya dan berbelas kasih terhadap warga sipil. Sementara Richard saat menerima ketundukan Acre (wilayah di Palestina), dia melanjutkan pembantaian terhadap penduduknya, termasuk wanita dan anak-anak, meskipun telah berjanji sebaliknya.”
-John L. Esposito, Profesor Senior Agama, Universitas Georgetown
Artikel Terkait
Al Nassr Bangkit dari Ketertinggalan, Raih Kemenangan 3-1 Berkat Gol Bunuh Diri Lawan dan Al Hamdan
Bayern Munich Kalahkan Borussia Dortmund 3-2 dalam Laga Sengit Der Klassiker
Prabowo: Kebersamaan Imlek dan Ramadhan Wajah Asli Indonesia
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan, 1 Maret 2026