APBN Babak-Belur: Waktu Pidato Sudah Habis, Saatnya Eksekusi
Oleh: Edy Mulyadi
Wartawan Senior
Dalam ekonomi, ada satu hukum yang keras. Angka tidak bisa diajak berbohong. Ia tak peduli pidato presiden yang berapi-api, tak tersentuh tepuk tangan forum internasional, dan tak luluh oleh narasi optimisme. Angka hanya mencatat kenyataan.
Karena itu, data fiskal tahun pertama pemerintahan Prabowo perlu dibaca dengan mata yang jernih, bukan sambil lalu. Sebuah peringatan dini yang cukup keras datang dari uraian Muhammad Said Didu soal realisasi APBN 2025. Di satu sisi, belanja negara terealisasi Rp3.451,4 triliun. Angka ini memang hanya 95,3% dari target, tapi tetap saja 2,72% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Artinya, negara masih agresif membelanjakan uang.
Namun begitu, masalah justru menganga di sisi penerimaan. Total penerimaan hanya Rp2.756,3 triliun, atau 91,7% dari target. Ini capaian terburuk dalam enam tahun terakhir. Lebih parah lagi, penerimaan perpajakan sumber utama APBN hanya menyentuh Rp2.217,9 triliun. Cuma 89% dari target. Lagi-lagi, ini rekor terburuk.
Alhasil, defisit anggaran pun melebar. Dari target Rp662 triliun, membengkak jadi Rp695,1 triliun. Memang belum separah masa pandemi, tapi ini adalah defisit terburuk pasca-Covid-19. Pesannya jelas: belanja tinggi tak diimbangi penerimaan yang sehat.
Lalu bagaimana dengan PNBP? Di atas kertas tampak baik, bahkan melampaui target. Tapi secara nominal, nilainya lebih rendah dibanding periode 2022-2024. Trennya justru yang terburuk dalam tujuh tahun. Ini sinyal mengkhawatirkan bahwa sumber-sumber penerimaan nonpajak juga mulai mengering.
Residu Jokowi?
Menyebut nama Jokowi di sini bukan soal dendam. Ini kejujuran analitis. Sepuluh tahun pemerintahannya diwarnai belanja besar-besaran, proyek mercusuar, infrastruktur mahal berbasis utang. Ditambah pembiaran kebocoran dan kebijakan yang kerap dianggap menguntungkan oligarki. Semua itu sangat mungkin menjadi residu berat yang kini harus ditanggung era Prabowo.
Artikel Terkait
Dua Wajah Jalan di Perbatasan Banten-Jabar, Warga: Seperti Dua Dunia
Permintaan Modal Pedagang Papua Menyambut Kunjungan Gibran di Pasar Potekelek
Miing Bagito Soroti Keberhasilan Pandji: 10.000 Penonton Bayar Mahal di Tengah Demo
KIP Menangkan Gugatan, Ijazah Jokowi Wajib Dibuka ke Publik