Scroll Media Sosial Bikin Dada Sesak? Mungkin Kamu Terjebak dalam Perbandingan Karier yang Keliru

- Kamis, 08 Januari 2026 | 01:06 WIB
Scroll Media Sosial Bikin Dada Sesak? Mungkin Kamu Terjebak dalam Perbandingan Karier yang Keliru

Hampir semua orang pernah merasakannya. Bukan saat gagal total, atau ditegur bos. Tapi justru di momen yang sepele: membuka media sosial. Cukup satu scroll, dada tiba-tiba sesak. Lihat, si A dapat promosi. Si B pindah ke kantor impian. Si C unggah pencapaian yang tampak sempurna dan mulus.

Lalu, pertanyaan itu muncul. Pelan, tapi mengganggu sekali.

"Kenapa mereka sudah sampai sana, sementara aku masih di sini?"

Di titik itu, rasanya kita ketinggalan kereta. Padahal, belum tentu kita salah jalan. Cuma, perasaan tertinggal ini punya suara yang lebih keras ketimbang logika yang mencoba menenangkan.

Perbandingan itu datangnya memang tak diundang. Menyelinap di sela waktu istirahat, atau di malam yang seharusnya sunyi. Kita nggak berniat, tapi dunia digital membuat semuanya terpampang nyata. Yang sering luput dari perhatian: kita membandingkan potongan highlight terbaik dari hidup orang lain dengan keseluruhan "director's cut" hidup kita sendiri lengkap dengan adegan gagal, cut scene ragu-ragu, dan semua "bloopers"-nya. Nggak adil, ya. Tapi terasa begitu nyata.

Sebenarnya, karier versi mana dari dirimu yang kamu bandingkan?

Diam-diam, kebiasaan membandingkan ini menggerogoti cara kita memandang diri. Karier yang tadinya oke-oke aja, mendadak terasa lambat banget. Langkah kecil yang kemarin masih bikin senyum-senyum sendiri, sekarang terlihat tak berarti. Kita mulai mempertanyakan semua pilihan yang dulu diambil dengan yakin.

Padahal, karier orang lain terlihat cepat karena banyak hal yang nggak kelihatan. Konteks hidup mereka beda. Fase hidupnya beda. Titik awalnya juga beda. Ada yang bisa fokus total karena belum punya tanggungan keluarga. Ada yang sudah punya koneksi dan dukungan sejak awal. Ada juga yang memang sedang di fase melesat, setelah bertahun-tahun jalan di tempat.

Pertanyaannya, adil nggak sih menilai perjalanan kita dengan peta hidup orang lain?

Soalnya, cepat itu belum tentu maju. Bisa jadi cuma terburu-buru. Atau sekadar ikut arus, tanpa benar-benar paham mau ke mana. Tapi dunia kita memang sering memuja kecepatan, sampai kita lupa bahwa bertahan dan bertumbuh pelan-pelan itu juga sebuah pencapaian meski nggak selalu terlihat mentereng.

Masalahnya seringkali bukan karena karier kita lambat. Tapi karena kita lupa nanya hal yang paling mendasar: "Lagiiii, aku sedang membangun apa sih?"


Halaman:

Komentar