Klaim Presiden Prabowo bahwa Indonesia adalah negara paling bahagia di dunia mendapat koreksi tajam. Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, dengan tegas menyatakan bahwa data yang dibacakan presiden itu keliru.
Lembaga tempat Askar bernaung, CELIOS atau Center of Economic and Law Studies, dikenal sebagai think-tank independen yang kerap menyoroti isu ekonomi, hukum, dan keadilan sosial.
Pernyataan kontroversial itu dilontarkan Prabowo saat Perayaan Natal Nasional 2025 di Senayan, Jakarta. Dengan penuh haru, ia menyebut Indonesia menduduki peringkat pertama dunia sebagai negara dengan rakyat paling bahagia. Klaim itu, katanya, berdasar survei Global Flourishing Study (GFS) hasil kolaborasi Harvard, Baylor University, dan Gallup.
Namun begitu, menurut analisis CELIOS, ada kesalahan fatal dalam membaca data tersebut.
“Saya ingin luruskan ya, satu hal yang sangat keliru,” tegas Media Wahyudi Askar dalam keterangannya Rabu (7/1/2026).
“Data ini tidak mengatakan orang Indonesia itu bahagia. Bisa dicek kembali studi GFS itu. Yang ditunjukkan adalah ‘flourishing’, dan itu bukan sinonim kebahagiaan.”
Justru, jika diteliti lebih dalam, komponen kebahagiaan atau happiness dalam data yang sama menunjukkan posisi Indonesia tidak istimewa. Bahkan, diukur dari kepuasan hidup dan kebahagiaan, skor kita kalah dari banyak negara lain. “Klaim bahwa orang Indonesia bahagia berdasarkan studi itu tidak betul. Itu salah baca data,” ucap Askar.
Lalu dari mana skor tinggi itu muncul? Menurut penjelasannya, pilar utamanya justru bukan kebahagiaan, melainkan hal-hal seperti makna hidup, tujuan, karakter, dan kebajikan.
Artikel Terkait
Perutmu Bisa Jadi Korban dari Terlalu Banyak Baca Berita Politik
Sepuluh Hari Terendam, Pengungsi Banjar Masih Bergantung pada Jadwal Makan Tak Pasti
Golkar Tegaskan Pilkada Lewat DPRD Bukan Kembali ke Orde Baru
Wagub Jabar Minta Kepala Daerah Gelar Nobar, Antisipasi Bobotoh Serbu GBLA