Inspirasi Bom Sekolah: Cosplay Teror dari Grup Chat Internasional

- Rabu, 07 Januari 2026 | 17:30 WIB
Inspirasi Bom Sekolah: Cosplay Teror dari Grup Chat Internasional

Ledakan di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu masih menyisakan tanda tanya. Apa yang mendorong seorang remaja melakukan aksi semacam itu? Dari hasil penyelidikan Densus 88 Antiteror, rupanya ada benang merah yang mengerikan. Pelakunya terinspirasi bahkan bisa dibilang menjiplak aksi serupa dari luar negeri.

Inspirasi itu, kata penyidik, datang dari sebuah grup chat internasional bernama True Crime Community. Di sanalah paham ekstrem, termasuk white supremacy dan Neo-Nazi, menyebar. Yang mengkhawatirkan, bukan cuma ideologi yang ditiru. Gaya berpakaian pelaku bom SMAN 72 pun disebut mirip dengan para pelaku di negara asal grup itu.

Juru Bicara Densus 88, Kombes Myandra Eka Wardhana, memberikan penjelasan yang cukup gamblang.

“ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, unggahannya, gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, itu seperti cosplay dari pelaku-pelaku sebelumnya,” ujar Myandra di Mabes Polri, Rabu (7/1).

Menurutnya, grup tersebut telah menjangkau setidaknya 70 anak di Indonesia. Berkat pengungkapan ini, sejumlah rencana kekerasan di sekolah berhasil digagalkan. Operasi pencegahan dilakukan di beberapa daerah, dari Kalimantan Barat hingga Jepara.

Lantas, kenapa rencana pelaku SMAN 72 sulit terbaca? Myandra menyoroti karakter personal pelaku yang sangat tertutup.

“Kita dikejutkan insiden 7 November 2025 itu karena karakter ABH-nya benar-benar introvert,” jelasnya.

“Dia sangat tidak bersosialisasi. Tidak berinteraksi dengan siapa pun soal rencananya. Alhasil, teman sekelas maupun pihak sekolah sama sekali tidak menduga. Tidak ada kesempatan untuk antisipasi,” tandas Myandra.

Jadi, ini bukan sekadar soal terorisme konvensional. Polanya berubah. Mereka bergerak dalam kesunyian, terinspirasi dari layar ponsel, dan mengeksekusi aksi dengan presisi menyeramkan yang ditiru dari dunia maya. Sebuah tantangan baru yang rumit untuk dihadapi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar