Suasana malam di Belawan, Medan, Senin (5/1) lalu, berubah mencekam bagi Romanda Siregar (33) dan putri kecilnya. Mereka sedang naik becak, hendak menjemput sang ayah di Pajak Baru. Tiba-tiba, lalu lintas macet total. Rupanya, ada tawuran antarkampung di depan mereka. Suasana kacau, ricuh.
Di tengah kemacetan itu, jeritan putrinya, Asmi Anggraini (4), memecah konsentrasi Romanda.
“Enggak tahu tiba-tiba dari mana peluru datang. Ya sudah, ‘Mak!’ katanya gitu,” kenang Romanda, suaranya masih bergetar.
“Ternyata sudah darah semua.”
Darah segar mengucur deras dari kelopak mata bocah malang itu. Peluru nyasar, entah dari arah mana, telah menembusnya. Panik, Romanda langsung memeluk anaknya yang mulai berlumuran darah dan berusaha mencari pertolongan.
Rencana awal adalah ke Rumah Sakit Prima Husada Cipta. Tapi jalan menuju sana terblokir tawuran masih berlangsung. Mereka pun terpaksa singgah di Klinik Era di belakang PHC. Sayangnya, petugas di klinik itu tak berani menangani.
“Ibu (petugas) itu bilang enggak berani karena lukanya dekat mata. Takutnya kena mata, jadi salah,” imbuh Romanda.
Akhirnya, setelah berjuang melewati kemacetan dan ketidakpastian, Asmi dibawa ke Rumah Sakit dr. Pringadi Medan. Di sana, kondisi daruratnya baru mendapat penanganan lebih serius.
Beban di Pundak Seorang Ibu
Di balik kekhawatiran atas kondisi Asmi, Romanda terbebani masalah lain: biaya. Keluarganya tidak memiliki BPJS. Padahal, penanganan untuk anaknya jelas tidak murah.
“Terhadap pemerintah, tolong dibantu. Bagaimana caranya supaya anak saya ini bisa dikeluarkan pelurunya,” pinta Romanda dengan nada harap.
“Setiap dia nangis, air mata keluar darah. Tolonglah anak saya.”
Keprihatinannya terdengar jelas dalam setiap kata.
Peluru yang Masih Bersarang
Gibson Girsang, Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUD dr. Pringadi, kemudian menjelaskan temuan medis yang mengkhawatirkan. Hasil rontgen menunjukkan benda asing berbentuk peluru masih bersarang di rongga kepala Asmi.
“Dari dokter kami bilang itu peluru dan masih bersarang di kepala,” ucap Gibson.
Meski kondisi Asmi dilaporkan mulai membaik, keberadaan benda asing itu tentu sangat mengganggu. Rumah Sakit dr. Pringadi pun berusaha merujuknya. Sayangnya, upaya itu menemui kendala. RS Pringadi sendiri tidak memiliki dokter mata spesialis.
Rumah Sakit Adam Malik yang dihubungi ternyata tidak memiliki layanan bedah mata saat itu. Sementara, di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) memang ada dokternya, tapi ruang rawatnya penuh.
“Dari Rumah Sakit dr. Pringadi menyarankan mencari ruangan kosong agar bisa langsung ke sana (RS USU),” tutur Gibson menjelaskan dilema yang dihadapi.
Sampai berita ini diturunkan, pihak kepolisian yang telah dimintai keterangan terkait kasus tembak nyasar ini belum juga memberikan jawaban atau klarifikasi resmi. Keluarga korban, terutama sang ibu, masih menunggu dengan hati was-was antara harapan dan ketakutan.
Artikel Terkait
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Reformasi Makassar
Oknum Brimob Ditahan Usai Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Makassar
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri