Paling Bahagia di Dunia: Ketika Survei Global Bertemu Realitas Warung Kopi

- Selasa, 06 Januari 2026 | 17:40 WIB
Paling Bahagia di Dunia: Ketika Survei Global Bertemu Realitas Warung Kopi

Indonesia, Negara Paling Bahagia? Benarkah?

Presiden Prabowo baru-baru ini menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia sedunia. Klaimnya berdasar pada sebuah survei global bertajuk "Global Flourishing Study". Mendengar kabar itu, reaksi warga 62 beragam. Ada yang cuma senyum-senyum, ada pula yang langsung mengernyit. Bahagia? Maksudnya yang mana dulu?

Soalnya, kalau kita lihat sekeliling, realitas yang terpampang seringkali jauh dari gambaran bahagia. Harga kebutuhan melambung, gaji kadang pas-pasan. Tapi rupanya, menurut para peneliti di balik survei itu, kebahagiaan tak melulu soal materi. Mereka mengukur hal-hal seperti makna hidup, hubungan sosial yang hangat, rasa syukur, dan ini yang penting kemampuan untuk tetap tersenyum di tengah kesulitan.

Dan di ranah itu, orang Indonesia memang jagonya.

Kita bisa ketawa ngobrol di warung kopi meski dompet tipis. Bisa bikin candaan dari musibah yang menimpa. Ungkapan “alhamdulillah” atau “nggak apa-apa” sering terlontar, bahkan saat situasi sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin pola pikir seperti inilah yang bikin peneliti luar bingung sekaligus kagum. Bagaimana bisa sebuah masyarakat yang secara ekonomi belum mapan, mengaku paling bahagia?

Namun begitu, di sinilah letak paradoksnya. Bahagia versi kuesioner internasional seringkali tak bersua dengan bahagia versi kenyataan sehari-hari. Yang satu dihitung dengan indeks dan skala, sementara yang lain diukur dari kemampuan bertahan hingga akhir bulan. Jadi, ketika gelar “paling bahagia” disematkan, rasanya seperti mendapat penghargaan atas ketangguhan mental: piala untuk “juara bertahan sambil tertawa”.

Dan mungkin, di situlah kebenaran yang pahit sekaligus mengharukan. Kebahagiaan kita bukan lahir karena hidup ini mudah, tapi justru karena kalau tidak memilih untuk bahagia, kita mungkin akan kewalahan.

Survei semacam ini umumnya mengandalkan "self-reported well-being". Artinya, responden ditanya langsung: apakah Anda puas? Apakah Anda bersyukur? Apakah Anda merasa bahagia?

Sebagian besar orang Indonesia, hampir bisa dipastikan, akan menjawab “Iya, bahagia.”

Budaya kita memang begitu. Ada rasa sungkan untuk mengeluh, ada malu untuk mengaku tidak bersyukur. Dalam kondisi sesulit apapun, masih ada kalimat penghibur: “Syukurlah, masih diberi napas dan kesehatan.” Persepsi subjektif, dengan kata lain, tak selalu sejalan dengan kondisi objektif.

Di sisi lain, dalam masyarakat dengan literasi terbatas dan budaya yang sangat adaptif, jawaban “bahagia” itu bisa jadi adalah mekanisme bertahan hidup. Sebuah "coping mechanism" untuk menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi. Itu bukan kebahagiaan karena sejahtera, tapi kebahagiaan karena pasrah dan berusaha menerima.

Pada akhirnya, bahagia kadang berarti saat negara bilang kamu bahagia, lalu kamu hanya mengangguk. Capek untuk berdebat. Lebih baik diiyakan saja.

Atau, jangan-jangan, rakyat jadi bahagia karena sering dihibur oleh tingkah polah elite politik yang belakangan makin mirip pertunjukan komedi?

(Setiya Jogja)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar