Frederiksen Peringatkan Ambisi AS atas Greenland Bisa Runtuhkan NATO

- Selasa, 06 Januari 2026 | 15:54 WIB
Frederiksen Peringatkan Ambisi AS atas Greenland Bisa Runtuhkan NATO

Isu Greenland kembali memanas. Kali ini, peringatan keras datang dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen. Ia menyebut ambisi Amerika Serikat untuk menguasai wilayah otonom itu bisa berakibat fatal: berakhirnya aliansi NATO.

“Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya berhenti,” tegas Frederiksen.

“Termasuk NATO kita, dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua,” lanjutnya.

Peringatan itu bukan tanpa sebab. Presiden AS Donald Trump memang berulang kali menyatakan keinginannya mengambil alih Greenland. Alasannya, wilayah itu dinilai sangat strategis di kawasan Arktik. Namun begitu, Frederiksen mengingatkan bahwa Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark dan dilindungi oleh payung pertahanan NATO.

Trump sendiri terlihat serius. Kepada wartawan, ia pernah mengatakan akan “membicarakan Greenland dalam 20 hari”, sambil menegaskan wilayah itu seharusnya berada di bawah kendali AS. Bagi Washington, nilai Greenland sangat besar. Posisinya yang terletak di antara Eropa dan Amerika Utara menjadikannya lokasi ideal untuk sistem pertahanan rudal. Belum lagi kekayaan mineralnya yang melimpah, yang bisa mengurangi ketergantungan AS pada impor dari China.

“Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” ujar Trump, membenarkan kekhawatirannya.

“Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya,” tambahnya.

Dan ia tak menampik opsi militer. Situasi makin tegang setelah operasi AS di Venezuela yang menargetkan Presiden Nicolas Maduro. Di sisi lain, pengangkatan Gubernur Louisiana Jeff Landry seorang pendukung aneksasi Greenland sebagai utusan khusus AS untuk Arktik, juga dianggap sebagai sinyal kuat.

Lalu ada unggahan provokatif di media sosial. Katie Miller, istri dari penasihat senior Trump, Stephen Miller, mengunggah gambar Greenland dengan warna bendera AS. Hanya ada satu kata pendamping: “Segera”.

Unggahan itu langsung memantik reaksi. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, dengan tegas mengecamnya.

“Hubungan antarnegara dan antarbangsa dibangun atas dasar saling menghormati dan hukum internasional, bukan melalui gestur simbolik yang mengabaikan status dan hak kami,” tulisnya.

Meski demikian, Nielsen berusaha menenangkan warganya. Ia menyatakan tidak ada alasan untuk panik.

“Tidak ada alasan untuk panik ataupun khawatir. Negara kami tidak untuk dijual, dan masa depan kami tidak ditentukan oleh unggahan media sosial,” katanya.

Dalam konferensi pers pada Senin lalu, ia kembali meredam ketegangan. Nielsen meyakinkan publik bahwa skenario pengambilalihan paksa adalah hal yang jauh dari kenyataan.

“Kami tidak berada dalam situasi di mana kami berpikir akan terjadi pengambilalihan negara secara tiba-tiba, dan itulah sebabnya kami menekankan bahwa kami menginginkan kerja sama yang baik,” jelasnya.

“Situasinya tidak sedemikian rupa, sehingga Amerika Serikat bisa begitu saja menaklukkan Greenland,” pungkas Nielsen, mencoba menutup pembicaraan dengan nada tenang meski awan konflik masih menggantung.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar