Ancaman militer dari Gedung Putih tak mengubah komitmen Kolombia. Pemerintah di Bogotá menegaskan, kerja sama dengan Amerika Serikat dalam memerangi perdagangan narkoba akan tetap berjalan. Hal ini disampaikan meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan kemungkinan serangan ke wilayah mereka.
Kolombia bertekad melanjutkan upaya pemberantasan, dengan tetap memanfaatkan dukungan intelijen dan teknologi dari Washington. Menurut mereka, kerja sama ini terlalu penting untuk dihentikan begitu saja.
Menteri Dalam Negeri Armando Benedetti sudah menyampaikan sikap resmi ini kepada pemerintah AS.
“Pemerintah Kolombia telah memberi tahu pemerintah AS bahwa kami akan terus berkoordinasi dan bekerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba,”
kata Benedetti dalam sebuah video konferensi, Selasa (6/1) lalu. Ia tampil bersama Menteri Kehakiman Andres Idarraga.
Benedetti lalu membeberkan rencana operasi. Fokusnya adalah membongkar laboratorium narkoba, melumpuhkan organisasi kriminal, dan menyerbu kamp-kamp yang mereka gunakan. Wilayah perbatasan, katanya, akan mendapat perhatian khusus. Di sisi lain, sikap terhadap ancaman Trump sendiri cukup keras. Pemerintah Kolombia mengkritik habis pernyataan itu dan menilai setiap potensi operasi militer AS sebagai bentuk campur tangan yang tak bisa diterima.
Namun begitu, ada juga yang melihat sisi lain dari ketegangan ini. Menteri Pertahanan Pedro Sanchez, misalnya, menyebut situasi ini justru bisa jadi peluang. Peluang untuk memperkuat kerja sama internasional dalam memberantas perdagangan narkoba secara lebih masif.
Tekanan dari Washington memang bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, penanaman daun koka bahan baku kokain melonjak drastis di Kolombia. Tapi pemerintahan Presiden Gustavo Petro punya klaim sendiri. Mereka menyatakan telah menyita kokain dalam jumlah tertinggi sepanjang sejarah, nyaris mencapai 1.000 metrik ton sepanjang 2025.
Trump Ancam Serang Kolombia
Semua ini berawal dari ancaman Trump yang disampaikan di atas Air Force One, Minggu (4/1). Saat seorang wartawan menanyakan kemungkinan operasi militer terhadap Kolombia, jawabannya singkat dan mengejutkan.
“Kedengarannya bagus bagi saya,”
ujarnya seperti dilaporkan Reuters. Tak berhenti di situ, Trump juga menyebut Presiden Gustavo Petro sebagai “orang sakit”.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit, yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan melakukannya lama lagi,”
tambahnya. Pernyataan pedas itu langsung mengguncang hubungan kedua negara, yang kerjasamanya selama ini dianggap cukup solid dalam perang melawan narkoba.
Artikel Terkait
Malam Takbiran Idul Adha di Kayong Utara Meriah, Mahfud MD dan Dasad Latif Hadiri Pawai Mobil Hias
Wali Kota Makassar Soroti Ketidaklolosan Calon Paskibraka Nasional 2026, Minta Seleksi Dilakukan Secara Fair
Pemuda di Jombang Alami Luka Parah Usai Petasan Meledak Saat Malam Iduladha
Petani Muda di Luwu Utara Jadi Korban Pembusuran saat Cari Pelaku yang Serang Adiknya, Dua Orang Diamankan