Ancaman militer dari Gedung Putih tak mengubah komitmen Kolombia. Pemerintah di Bogotá menegaskan, kerja sama dengan Amerika Serikat dalam memerangi perdagangan narkoba akan tetap berjalan. Hal ini disampaikan meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan kemungkinan serangan ke wilayah mereka.
Kolombia bertekad melanjutkan upaya pemberantasan, dengan tetap memanfaatkan dukungan intelijen dan teknologi dari Washington. Menurut mereka, kerja sama ini terlalu penting untuk dihentikan begitu saja.
Menteri Dalam Negeri Armando Benedetti sudah menyampaikan sikap resmi ini kepada pemerintah AS.
kata Benedetti dalam sebuah video konferensi, Selasa (6/1) lalu. Ia tampil bersama Menteri Kehakiman Andres Idarraga.
Benedetti lalu membeberkan rencana operasi. Fokusnya adalah membongkar laboratorium narkoba, melumpuhkan organisasi kriminal, dan menyerbu kamp-kamp yang mereka gunakan. Wilayah perbatasan, katanya, akan mendapat perhatian khusus. Di sisi lain, sikap terhadap ancaman Trump sendiri cukup keras. Pemerintah Kolombia mengkritik habis pernyataan itu dan menilai setiap potensi operasi militer AS sebagai bentuk campur tangan yang tak bisa diterima.
Namun begitu, ada juga yang melihat sisi lain dari ketegangan ini. Menteri Pertahanan Pedro Sanchez, misalnya, menyebut situasi ini justru bisa jadi peluang. Peluang untuk memperkuat kerja sama internasional dalam memberantas perdagangan narkoba secara lebih masif.
Artikel Terkait
Bank Dunia: Ekspor Komoditas dan Subsidi BBM Jadi Bantalan Ekonomi Indonesia
Anggota DPR Desak Polri Tindak Tegas Premanisme Usai Kasus Pengeroyokan di Purwakarta
Tabrakan Beruntun di Jalur Purworejo-Magelang Tewaskan Satu Orang
Presiden Prabowo Buka Munas IPSI, Dukung Pencak Silat Menuju Olimpiade