Malam itu, Senayan ramai. Tennis Indoor Senayan menjadi tuan rumah Perayaan Natal Nasional 2025, Senin (5/1) kemarin. Tak kurang dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir memenuhi undangan.
Acara itu juga dihadiri oleh sederet nama penting dari Kabinet Merah Putih. Tampak hadir Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, Menko PMK Pratikno, hingga Menko Pangan Zulkifli Hasan. Dari lingkaran pertahanan dan keamanan, hadir Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, sementara Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga tak absen.
Dari jajaran lain, terlihat Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menbud Fadli Zon, dan Menteri HAM Natalius Pigai. Lalu ada juga Kepala BRIN Arif Satria, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan, serta Gubernur Jakarta Pramono Anung. Rupanya, malam itu jadi ajang silaturahmi yang cukup lengkap.
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan beberapa hal penting. Mulai dari rasa syukur hingga tanggapan atas berbagai isu yang beredar.
Bersyukur untuk Kedamaian
Prabowo membuka dengan rasa syukur. Di tengah dunia yang memanas, penuh gejolak dan peperangan di berbagai wilayah, Indonesia menurutnya masih bisa menikmati kedamaian. Sebuah kondisi yang tidak bisa dianggap remeh.
“Pada kesempatan ini, saya ingin sampaikan sesungguhnya di tengah dunia, ketidakpastian penuh gejolak perang di mana-mana, kita harusnya bersyukur bahwa bangsa kita sampai hari ini mengalami keadaan damai,” kata Prabowo.
Ia mengakui, sebagai bangsa besar yang majemuk, perselisihan dan persaingan pasti ada. Namun begitu, secara umum ia merasa bangsa lain mulai melihat Indonesia sebagai contoh hidup yang saling menghormati.
“Kita mengerti negara sebesar ini pasti ada perselisihan paham, ada konflik, ada perseteruan, ada persaingan,” tambahnya.
Soal Survei Kebahagiaan yang Bikin Terharu
Lalu, ia menyinggung satu survei global. Hasil dari Harvard University dan Gallup Poll itu menempatkan Indonesia di posisi puncak sebagai negara dengan rakyat paling bahagia di dunia. Prabowo mengaku terharu mendengarnya.
“Baru saja keluar sebuah survei dunia yang dilakukan bersama oleh Harvard University dan Gallup di mana hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya, menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia negara yang paling nomor satu di dunia sekarang rakyatnya mengatakan dia bahagia adalah bangsa Indonesia,” ujarnya.
Baginya, temuan ini punya makna mendalam. Apalagi mengingat masih banyak masyarakat yang hidup sederhana. Hasil survei itu ia jadikan pendorong untuk bekerja lebih keras lagi.
Kilas Balik ‘Magang’ di Era Jokowi
Prabowo lalu bercerita tentang pengalaman pribadinya. Ia bersyukur pernah diajak bergabung dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo selama lima tahun. Masa itu ia sebut sebagai periode ‘magang’ yang berharga.
“Saya bersyukur saya mendapatkan kesempatan saya diajak bergabung dalam pemerintah Presiden Joko Widodo selama 5 tahun, selama 5 tahun saya masuk ke dalam kekuasaan eksekutif. Jadi bagi saya 5 tahun itu adalah semacam masa magang, masa pembelajaran,” katanya.
Ia bahkan teringat rapat kabinet pertamanya. Saat itu, ia sempat melihat sekeliling dan berpikir.
“Begitu saya hadir pertemuan kabinet pertama saya lihat sekelilingnya itu dan memang saya sudah tentunya hadir pelantikan, saya mengatakan kepada beberapa rekan-rekan waktu itu kan 2019 saya kandidat yang kalah ya kan, tapi saya waktu masuk ruang kabinet, saya melihat dan saya mengatakan seandainya saya menang sebagian besar Kabinet itu pasti saya ajak membantu saya,” ujarnya.
Dan menurutnya, hal itu terbukti. Setelah terpilih menjadi presiden, ia tetap melibatkan banyak sosok dari kabinet sebelumnya.
Demokrasi, Kritik, dan Batasannya
Pidato kemudian menyentuh soal demokrasi dan persatuan. Prabowo menanggapi anggapan bahwa bersatu itu tidak demokratis. Baginya, demokrasi memang harus menyediakan ruang untuk koreksi dan kritik. Tapi ada batasnya.
“Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Loh, demokratis silakan. Koreksi silakan. Kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah,” tegas Prabowo.
Ia lantas merujuk pada ajaran agama. Fitnah, menurutnya, adalah hal yang kejam dan destruktif.
“Saya yakin, di agama Islam fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Di agama Kristen demikian juga. Thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa menghancurkan negara,” katanya.
Bersatu Bukan Berarti Harus Masuk Pemerintah
Di sisi lain, Prabowo menegaskan konsep persatuannya. Bersatu nasional tidak berarti semua partai harus masuk ke dalam koalisi pemerintah. Kerja sama bisa dilakukan dengan berbagai cara.
“Negara kita hebat, negara kita kaya, dan negara kita bisa lebih makmur lagi asal pemimpin-pemimpinnya bersatu, kerja sama. Bersatu tidak berarti semua harus masuk pemerintah, tidak. PDI-P boleh di luar, boleh tapi kerja sama. Saya dukung Pramono jadi Gubernur DKI, betul,” ujarnya.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program itu, klaimnya, dijalankan tanpa memandang peta politik.
“Saudara-saudara, apakah MBG enggak sampai Sumatera Barat karena aku kalah di Sumatera Barat berarti MBG jangan ke Sumatera Barat? Enggak ada itu. Apa saya larang MBG ke Aceh? Aku kalah juga di Aceh. Tidak, karena sekarang saya bukan milik satu partai, saya sekarang milik seluruh bangsa Indonesia,” paparnya.
Menanggapi Tudingan Soal MBG dan 2029
Terakhir, ia menyentuh isu yang mungkin agak menggelitik. Ada yang menuding program MBG cuma alat politik untuk menyongsong Pemilu 2029. Prabowo mengaku heran dengan anggapan seperti itu.
“Dan ada yang menuduh, ada. Oh Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali. Selalu berpikir negatif. Tapi kalau rakyat memilih saya tahun 2029, apa salah saya?” katanya.
Baginya, jika rakyat memilihnya lagi, itu adalah hak demokratis. Tapi semuanya tetap bergantung pada kehendak yang di atas.
“Iya kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya buat apa saja tidak akan terjadi, benar nggak?” tutupnya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Penyelidikan Kasus Sea Dragon Sampai ke Aktor Intelektual
Dua Perwira Polres Toraja Utara Ditahan Terkait Dugaan Jaringan Narkoba
Bandara Koroway Batu Beroperasi Kembali dengan Pengamanan Ketat Pasca Insiden Penembakan Pilot
ASDP Terapkan Diskon Tiket dan Tarif Tunggal untuk Mudik Lebaran 2026