“Begitu saya hadir pertemuan kabinet pertama saya lihat sekelilingnya itu dan memang saya sudah tentunya hadir pelantikan, saya mengatakan kepada beberapa rekan-rekan waktu itu kan 2019 saya kandidat yang kalah ya kan, tapi saya waktu masuk ruang kabinet, saya melihat dan saya mengatakan seandainya saya menang sebagian besar Kabinet itu pasti saya ajak membantu saya,” ujarnya.
Dan menurutnya, hal itu terbukti. Setelah terpilih menjadi presiden, ia tetap melibatkan banyak sosok dari kabinet sebelumnya.
Demokrasi, Kritik, dan Batasannya
Pidato kemudian menyentuh soal demokrasi dan persatuan. Prabowo menanggapi anggapan bahwa bersatu itu tidak demokratis. Baginya, demokrasi memang harus menyediakan ruang untuk koreksi dan kritik. Tapi ada batasnya.
“Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Loh, demokratis silakan. Koreksi silakan. Kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah,” tegas Prabowo.
Ia lantas merujuk pada ajaran agama. Fitnah, menurutnya, adalah hal yang kejam dan destruktif.
“Saya yakin, di agama Islam fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Di agama Kristen demikian juga. Thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa menghancurkan negara,” katanya.
Bersatu Bukan Berarti Harus Masuk Pemerintah
Di sisi lain, Prabowo menegaskan konsep persatuannya. Bersatu nasional tidak berarti semua partai harus masuk ke dalam koalisi pemerintah. Kerja sama bisa dilakukan dengan berbagai cara.
“Negara kita hebat, negara kita kaya, dan negara kita bisa lebih makmur lagi asal pemimpin-pemimpinnya bersatu, kerja sama. Bersatu tidak berarti semua harus masuk pemerintah, tidak. PDI-P boleh di luar, boleh tapi kerja sama. Saya dukung Pramono jadi Gubernur DKI, betul,” ujarnya.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program itu, klaimnya, dijalankan tanpa memandang peta politik.
“Saudara-saudara, apakah MBG enggak sampai Sumatera Barat karena aku kalah di Sumatera Barat berarti MBG jangan ke Sumatera Barat? Enggak ada itu. Apa saya larang MBG ke Aceh? Aku kalah juga di Aceh. Tidak, karena sekarang saya bukan milik satu partai, saya sekarang milik seluruh bangsa Indonesia,” paparnya.
Menanggapi Tudingan Soal MBG dan 2029
Terakhir, ia menyentuh isu yang mungkin agak menggelitik. Ada yang menuding program MBG cuma alat politik untuk menyongsong Pemilu 2029. Prabowo mengaku heran dengan anggapan seperti itu.
“Dan ada yang menuduh, ada. Oh Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali. Selalu berpikir negatif. Tapi kalau rakyat memilih saya tahun 2029, apa salah saya?” katanya.
Baginya, jika rakyat memilihnya lagi, itu adalah hak demokratis. Tapi semuanya tetap bergantung pada kehendak yang di atas.
“Iya kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya buat apa saja tidak akan terjadi, benar nggak?” tutupnya.
Artikel Terkait
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini