Senin kemarin, tanggal 5 Januari 2026, seharusnya jadi hari yang riuh dengan tawa anak-anak kembali ke sekolah. Tapi di beberapa daerah yang baru saja dilanda bencana, suasana itu terasa berbeda. Meski banyak gedung sekolah rusak parah, proses belajar-mengajar toh tetap berjalan. Mereka berusaha bangkit.
Ambil contoh SDN 05 Batang Anai di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Upacara bendera perdana tahun ini digelar di halaman sekolah yang masih terlihat bekas-bekas lumpur dan genangan dari banjir bandang bulan lalu. Sekolah ini kondisinya memang cukup memprihatinkan.
Walau begitu, semangat untuk belajar tak padam. Untuk sementara, kegiatan dipindahkan ke tenda bantuan dari Kemendikdasmen yang menampung dua ruang kelas. Ada juga bangunan kayu darurat yang dipakai untuk empat kelas lainnya. Ya, seadanya dulu, yang penting anak-anak bisa kembali menimba ilmu.
Di sisi lain, cerita serupa tapi dengan nuansa lain terjadi di SD Negeri 42 Banda Aceh. Hari pertama mereka justru diisi dengan heningnya doa bersama. Para siswa tak hanya datang dengan buku tulis, tapi juga membawa poster-poster kecil berisi kata-kata penyemangat.
“Kami berdoa bukan cuma untuk diri sendiri dan teman-teman di sekolah ini,” ujar salah seorang guru. “Tapi juga untuk semua anak-anak di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang sama-sama kena dampak bencana.”
Rupanya, bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah itu menciptakan rasa solidaritas yang kuat. Dari puing-puing kerusakan, mereka justru saling menguatkan. Hari pertama sekolah tahun ini mungkin tak sempurna, tapi penuh makna.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah