Di sisi lain, cerita serupa tapi dengan nuansa lain terjadi di SD Negeri 42 Banda Aceh. Hari pertama mereka justru diisi dengan heningnya doa bersama. Para siswa tak hanya datang dengan buku tulis, tapi juga membawa poster-poster kecil berisi kata-kata penyemangat.
“Kami berdoa bukan cuma untuk diri sendiri dan teman-teman di sekolah ini,” ujar salah seorang guru. “Tapi juga untuk semua anak-anak di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang sama-sama kena dampak bencana.”
Rupanya, bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah itu menciptakan rasa solidaritas yang kuat. Dari puing-puing kerusakan, mereka justru saling menguatkan. Hari pertama sekolah tahun ini mungkin tak sempurna, tapi penuh makna.
Artikel Terkait
Truk Skylift Dinas Perhubungan Gianyar Hangus Terbakar Diduga Akibat Korsleting
Peneliti IPB Kembangkan Pakan Probiotik Antikoksi untuk Dongkrak Produktivitas Ayam
Motor Terbakar di Tengah Perempatan Maros, Keluarga Selamat
Iran Ajukan Prasyarat Keras Jelang Pembicaraan dengan AS di Islamabad