Maduro sendiri, yang statusnya kini telah digulingkan, bersiap menghadapi proses hukum di New York. Dia dijadwalkan muncul di pengadilan federal pada Senin untuk menjawab dakwaan terkait perdagangan narkoba.
Pemerintahan Trump sendiri terlihat cukup pragmatis. Mereka menyatakan bersedia berkolaborasi dengan sisa-sisa pemerintahan Maduro, tapi dengan satu syarat utama: kepentingan Washington harus terpenuhi. Dan salah satu kepentingan besar itu tak lain adalah akses ke cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar. Saat ditanya apakah operasi ini tentang minyak atau penggantian rezim, Trump menjawab singkat, "Ini tentang perdamaian dunia."
Pernyataan senada datang dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dalam sebuah wawancara dengan NBC, ia berusaha meredam spekulasi.
"Kami memerangi pengedar narkoba, bukan berperang melawan Venezuela," tegas Rubio.
Meski begitu, ia mengakui bahwa tekanan besar-besaran akan terus berlanjut. Kehadiran Angkatan Laut AS di perairan Karibia akan dipertahankan, dengan tujuan utama menegakkan blokade atas ekspor minyak Venezuela. Jadi, narasinya memang tentang narkoba, tapi langkah-langkahnya jelas berdampak pada kedaulatan dan perekonomian negara tersebut. Sebuah paradoks yang sengaja dibiarkan terbuka.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar Malam Ini
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit