Di sisi lain, pekerjaan rumah terbesar saat ini adalah pembersihan. Lumpur yang tersisa masih menjadi musuh bersama untuk mengembalikan aktivitas belajar. Prosesnya ternyata tak semudah yang dibayangkan.
"Masalah hari ini, beberapa tempat itu walaupun di dalam ruangan sudah kita keluarin lumpur. Karena di luar masih tinggi berlumpur, sedikit hujan masuk lagi (lumpurnya)," keluh Mu'ti, menggambarkan tantangan di lapangan.
Menanggapi hal itu, upaya ekstra terus dilakukan. Murthalamuddin, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, yang hadir dalam kesempatan sama, membeberkan strategi mereka. Pengerahan alat berat jadi solusi utama.
"Alhamdulillah dari kementerian sudah dapat back up untuk kita sewa alat berat," kata Murthalamuddin.
Ia menyebutkan, setidaknya sudah sepuluh unit alat berat didatangkan khusus untuk fokus membersihkan sekolah-sekolah di Aceh Tamiang. Pengerjaannya menyeluruh, menjangkau SMA hingga SD, baik negeri maupun swasta.
Hasilnya? Ada titik terang. Pada hari itu juga, setelah melalui proses pembersihan dan evaluasi mendadak, kegiatan belajar mengajar akhirnya bisa kembali digulirkan di beberapa sekolah. Suara riang anak-anak sedikit demi sedikit mulai kembali mengisi ruang-ruang kelas yang sempat dipenuhi lumpur.
Artikel Terkait
Paris Membeku dalam Riang: Salju Ubah Kota Cahaya Jadi Arena Bermain
Status Darurat Sampah Tangsel Diperpanjang Dua Pekan Lagi
Bareskrim Ungkap 21 Situs Judi Online Berkedok Perusahaan Fiktif, Uang Sitaan Tembus Rp59 Miliar
Jaringan Gelap The True Crime Community Racuni 70 Anak Indonesia dengan Ideologi Ekstrem