Jakarta Korban jiwa dari operasi militer Amerika Serikat di Venezuela terus bertambah. Menurut laporan terbaru The New York Times pada Ahad (04/01/2026), angka kematian kini mencapai 80 orang. Operasi yang terjadi Sabtu lalu itu memang berdarah.
Dan tampaknya, daftar itu belum final. Seorang pejabat senior Venezuela, yang dikutip oleh media AS tersebut, mengisyaratkan bahwa jumlah korban masih mungkin bertambah. Situasinya masih berkembang, dan hitungannya bisa berubah.
Sebelum kabar ini beredar, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino sudah lebih dulu mengungkapkan dampak buruk dari serangan itu. Menurutnya, sebagian besar tim pengamanan yang bertugas melindungi Presiden Nicolas Maduro tewas dalam operasi tersebut. Sayangnya, Padrino tidak memberikan rincian angka pastinya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru menyoroti keberhasilan operasi itu. Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa aksi militer AS berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
“Kami akan menegaskan kendali atas Venezuela untuk sementara waktu,” tegas Trump. Ia bahkan tak segan menyebut opsi mengerahkan pasukan AS di lapangan jika memang diperlukan.
Pasangan presiden itu sendiri dikabarkan telah tiba di New York pada Sabtu malam. Mereka kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn, dan menghadapi dakwaan serius dari pengadilan federal AS. Tuduhannya berkisar dari perdagangan narkoba hingga kerja sama dengan kelompok kriminal yang digolongkan sebagai teroris.
Maduro sendiri membantah semua tuduhan tersebut. Sementara itu, di ibu kota Venezuela, Caracas, suara-suara yang menyerukan pembebasan mereka mulai bermunculan dari sejumlah pejabat.
Laporan: Anadolu
Artikel Terkait
PSM Makassar Tunjuk Kembali Darije Kalezic sebagai Pelatih Kepala untuk Musim 2026/2027
Dosen UNM Diganjar 4,5 Tahun Penjara Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual ke Mahasiswi
Pembentukan ‘Wilayah Tengah’ di Libya Picu Gelombang Penolakan dan Kekhawatiran Disintegrasi
Presiden Panggil Chatib Basri ke Istana, Istana Bantah Terkait Isu Reshuffle Menkeu