Nicolás Maduro: Dari Sopir Bus Hingga Sandera AS
Kini ia dikabarkan diculik militer Amerika Serikat. Tapi jauh sebelum peristiwa dramatis itu, Presiden Venezuela ini sudah lama menjadi pengkritik paling lantang Israel di kawasan Amerika Latin. Bagi Maduro, mendukung perjuangan Palestina bukan sekadar politik itu soal prinsip.
Di mata Washington dan sekutunya, dia musuh bebuyutan. Tapi coba tanyakan pada rakyat Palestina, atau banyak negara di Global South. Di sana, Maduro justru dipandang sebagai salah satu pemimpin langka yang berani menyebut genosida di Gaza apa adanya: sebuah kebenaran pahit.
Keberaniannya itu mahal harganya. Tekanan dari AS sudah begitu hebat, dan puncaknya adalah aksi penculikan yang dikabarkan terjadi Sabtu, 3 Januari 2026, atas perintah langsung Donald Trump. Risiko yang dia tanggung ternyata nyata.
Lelaki dari Kelas Pekerja
Jalan Nicolás Maduro Moros ke istana kepresidenan berliku. Lahir di Caracas tahun 1962 dari keluarga sederhana, dunia politik awalnya jauh dari benaknya. Dia pernah bekerja sebagai sopir bus untuk Metro Caracas, dan justru di sanalah bibit aktivisme tumbuh: mendirikan serikat pekerja non-resmi.
Perjumpaan dengan ide-ide revolusioner membawanya ke Liga Sosialis, lalu ke Kuba untuk pelatihan politik di era 80-an. Namun, namanya benar-benar melesat berkat hubungannya dengan Hugo Chávez. Maduro bergabung dengan Gerakan Revolusioner Bolivarian-200, dan setia berkampanye untuk pembebasan Chávez pasca-kudeta gagal 1992.
Karirnya meroket saat Chávez berkuasa. Mulai dari anggota Majelis Nasional, lalu jadi Presiden Majelis, Menteri Luar Negeri, hingga akhirnya Wakil Presiden di tahun 2012. Takdir kemudian berbicara. Chávez meninggal karena kanker pada Maret 2013.
Maduro, sebagai wakil presiden, mengambil alih tampuk kepemimpinan. Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) menunjuknya sebagai penerus. Dalam pemilu khusus April 2013, dia menang tipis selisihnya cuma 1,49%. Kemenangan tersempit di Venezuela sejak 1968. Setelah audit, dia resmi dilantik 19 April 2013.
Sejak itu, lebih dari satu dekade, dia memegang teguh panji "Sosialisme Abad ke-21". Intinya: kedaulatan atas sumber daya alam, dan lepas dari cengkeraman Washington.
Mengapa Trump dan AS Begitu Membencinya?
Perseteruan dengan Amerika Serikat memanas di era Donald Trump. Dan alasannya kompleks. Bukan cuma satu hal.
Pertama, soal ideologi. Trump terang-terangan memerangi sosialisme di belahan bumi barat. Venezuela di bawah Maduro dianggap ancaman stabilitas, apalagi dengan aliansinya yang erat dengan Rusia, China, dan Iran.
Lalu ada minyak. Cadangan minyak terbukti terbesar di dunia ada di Venezuela. Kebijakan Maduro mempertahankan kontrol negara lewat PDVSA membuat korporasi energi AS gerah. Mereka ingin kembali menguasainya.
Tak cuma itu. Di tahun 2020, Departemen Kehakiman AS mendakwa Maduro dengan tuduhan "narkoterorisme". Mereka menuduhnya memimpin "Cartel de los Soles" untuk membanjiri AS dengan kokain sebagai bentuk perang asimetris. Maduro membantah keras.
Belum lagi soal pengakuan terhadap Juan Guaidó. Trump memimpin koalisi internasional untuk mengakui tokoh oposisi itu sebagai "presiden sah". Bagi Maduro, ini jelas upaya kudeta yang kasar dan terang-terangan.
Langkah-Langkah yang Membuat AS Gerah
Maduro konsisten menantang hegemoni dolar. Dia mendorong dedolarisasi ekonomi Venezuela, menjual minyak pakai Euro dan Yuan, bahkan menciptakan mata uang kripto "Petro".
Artikel Terkait
Prabowo Beri Sinyal Tegas: Pelanggar Hukum Harus Ditindak, Tak Ada Tawar-menawar
Pemimpin Separatis Yaman Hilang Usai Pesawatnya Tertunda, Saudi Lancarkan Serangan Udara
Ketika Kritik Diredam, Hukum Berubah Jadi Alat Penertiban
Prabowo Desak Jaksa Agung Perhebat Pemberantasan Korupsi di Tengah Panen Raya