Fajar di Caracas masih menyisakan warna jingga lembut di ufuk timur. Tanggal 3 Januari 2026 itu seharusnya menjadi hari peringatan, ulang tahun ke-14 Revolusi Bolivarian. Tapi semuanya berubah dalam sekejap. Langit tak lagi damai.
Dari sebuah kantor di Pulo Gadung, Jakarta Timur, respons pun datang. Lantang dan tanpa tedeng aling-aling. Komite Politik Nasional Partai Buruh secara resmi mengutuk keras apa yang terjadi. Mereka menyebutnya sebagai "serangan militer ilegal" oleh pemerintahan Donald Trump terhadap Venezuela.
Bahasa yang dipakai keras. Sangat keras. Bukan cuma pelanggaran kedaulatan, ini disebutnya "terorisme negara". Sebuah intervensi militer langsung yang dianggapnya tak bisa ditolerir sama sekali. Pernyataan itu jelas bukan sekadar kritik diplomatik biasa; ini seruan perlawanan.
Di tengah kemungkinan chaos di ibu kota Venezuela, suara dari Jakarta ini menawarkan satu hal: solidaritas bulat. Bagi mereka, Venezuela adalah benteng perlawanan, simbol yang harus dipertahankan mati-matian. Prinsipnya jelas: mempertahankan kedaulatan dan melindungi rakyatnya dari agresi asing.
Namun begitu, pernyataan ini tak berhenti pada kutukan. Ada seruan yang lebih luas. Pertama, tentu saja, kepada pemerintah Indonesia. Lalu, kepada dunia internasional. Intinya satu: tolak intervensi ini.
Yang menarik, mereka punya visi yang ambisius. Sebuah "mobilisasi solidaritas global" mereka gaungkan. Mereka membayangkan gelombang aksi massa di depan kedutaan besar AS di berbagai ibukota, unjuk rasa yang serentak. Seruan itu ditujukan kepada partai-partai, serikat buruh, organisasi masyarakat sipil di mana saja. Ini internasionalisme gaya lama, tapi dihidupkan kembali untuk konflik abad ini.
Artikel Terkait
Pemimpin Separatis Yaman Hilang Usai Pesawatnya Tertunda, Saudi Lancarkan Serangan Udara
Ketika Kritik Diredam, Hukum Berubah Jadi Alat Penertiban
Prabowo Desak Jaksa Agung Perhebat Pemberantasan Korupsi di Tengah Panen Raya
Prabowo Soroti Swasembada Pangan dan Hadirnya Panglima TNI dalam Taklimat Awal Tahun