Dari Pulo Gadung, Seruan Solidaritas untuk Venezuela yang Terkepung

- Minggu, 04 Januari 2026 | 22:50 WIB
Dari Pulo Gadung, Seruan Solidaritas untuk Venezuela yang Terkepung

Fajar di Caracas masih menyisakan warna jingga lembut di ufuk timur. Tanggal 3 Januari 2026 itu seharusnya menjadi hari peringatan, ulang tahun ke-14 Revolusi Bolivarian. Tapi semuanya berubah dalam sekejap. Langit tak lagi damai.

Dari sebuah kantor di Pulo Gadung, Jakarta Timur, respons pun datang. Lantang dan tanpa tedeng aling-aling. Komite Politik Nasional Partai Buruh secara resmi mengutuk keras apa yang terjadi. Mereka menyebutnya sebagai "serangan militer ilegal" oleh pemerintahan Donald Trump terhadap Venezuela.

Bahasa yang dipakai keras. Sangat keras. Bukan cuma pelanggaran kedaulatan, ini disebutnya "terorisme negara". Sebuah intervensi militer langsung yang dianggapnya tak bisa ditolerir sama sekali. Pernyataan itu jelas bukan sekadar kritik diplomatik biasa; ini seruan perlawanan.

"Solidaritas dan dukungan penuh kami kepada pemerintahan yang sah dan konstitusional di bawah Nicolás Maduro," bunyi pernyataan resmi mereka.

Di tengah kemungkinan chaos di ibu kota Venezuela, suara dari Jakarta ini menawarkan satu hal: solidaritas bulat. Bagi mereka, Venezuela adalah benteng perlawanan, simbol yang harus dipertahankan mati-matian. Prinsipnya jelas: mempertahankan kedaulatan dan melindungi rakyatnya dari agresi asing.

Namun begitu, pernyataan ini tak berhenti pada kutukan. Ada seruan yang lebih luas. Pertama, tentu saja, kepada pemerintah Indonesia. Lalu, kepada dunia internasional. Intinya satu: tolak intervensi ini.

Yang menarik, mereka punya visi yang ambisius. Sebuah "mobilisasi solidaritas global" mereka gaungkan. Mereka membayangkan gelombang aksi massa di depan kedutaan besar AS di berbagai ibukota, unjuk rasa yang serentak. Seruan itu ditujukan kepada partai-partai, serikat buruh, organisasi masyarakat sipil di mana saja. Ini internasionalisme gaya lama, tapi dihidupkan kembali untuk konflik abad ini.

Logikanya sederhana namun powerful: serangan terhadap Venezuela bukan cuma masalah Caracas. Itu adalah serangan terhadap prinsip kedaulatan semua bangsa. "Serangan terhadap satu bangsa adalah serangan terhadap kita semua," kira-kira begitu pesan moral yang ingin disampaikan.

Pernyataan ditutup dengan tiga teriakan penyemangat: "Hentikan Agresi AS!", "Hidup Solidaritas Internasional!", dan "Venezuela Akan Menang!". Sederhana, mudah diingat, penuh keyakinan.

Di bagian paling bawah, ada detail kecil yang justru penting: dua nama beserta nomor kontak. Aidi dan Akbar, sebagai narahubung. Ini sinyal bahwa pernyataan ini bukan sekadar dokumen untuk arsip. Ini ajakan nyata untuk bergerak, berkomunikasi, dan mengorganisir dukungan.

Pada akhirnya, apa yang keluar dari Pulo Gadung itu lebih dari sekadar siaran pers. Ini adalah sebuah fragmen dari pertarungan narasi besar yang sedang terjadi. Di satu sisi, narasi intervensi yang sering dibungkus dalih pemulihan demokrasi. Di sisi lain, narasi perlawanan terhadap imperialisme.

Komite Politik Nasional Partai Buruh sudah memilih posisinya dengan sangat tegas. Mereka sedang membingkai sebuah peristiwa, memberinya makna, dan mengajak orang untuk melihatnya melalui lensa perjuangan global. Saat langit Caracas retak oleh serangan, dari sudut Jakarta sebuah dokumen diluncurkan. Di dalamnya, berdenyut amarah, harapan, dan mimpi tentang tatanan dunia yang berbeda. Mimpi yang, bagi mereka, hanya bisa dicapai jika solidaritas tanpa batas benar-benar diwujudkan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar