MURIANETWORK.COM - PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025, dengan laba bersih mencapai Rp3,6 triliun. Pencapaian ini ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 5,5% menjadi Rp163,3 triliun dan pendapatan yang meningkat 3,8% menjadi Rp12,6 triliun. Laporan keuangan yang dirilis pada Kamis, 12 Februari 2026, ini menunjukkan ketahanan bank di tengah dinamika ekonomi yang bergejolak.
Fundamental yang Kuat di Tengah Tantangan
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menggarisbawahi bahwa hasil ini merupakan buah dari pendekatan yang disiplin dan prudent. Menurutnya, bank berhasil menjaga momentum dengan tetap fokus pada kebutuhan nasabah sebagai prioritas utama.
“Di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang tahun 2025, Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan,” jelas Meliza dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kinerja tersebut mencerminkan fundamental perusahaan yang resilien. Hal ini terlihat tidak hanya dari pertumbuhan pendapatan, tetapi juga dari kualitas aset yang terjaga dan komitmen untuk memperkuat kepercayaan nasabah.
Daya Tahan Likuiditas dan Kekuatan Pendanaan
Analisis lebih dalam terhadap laporan keuangan mengungkap fondasi yang kokoh. Permata Bank mencatat manajemen likuiditas yang sangat kuat, dengan rasio Loan-to-Deposit (LDR) berada di level yang sehat, yakni 84,5%. Total aset bank juga bertumbuh 3,6% menjadi Rp268,3 triliun.
Dari sisi pendanaan, terjadi peningkatan yang signifikan pada simpanan nasabah, yang mencapai Rp192,8 triliun. Yang patut dicatat, pertumbuhan didominasi oleh dana murah atau CASA yang melonjak 20,1%. Kenaikan ini mengerek rasio CASA bank menjadi 63,9%, sebuah peningkatan yang cukup tajam dibandingkan posisi tahun sebelumnya di angka 55,3%.
Kualitas Aset dan Modal yang Tangguh
Meski penyaluran kredit meningkat, terutama pada segmen korporasi yang tumbuh pesat 11,2%, bank berhasil menjaga kualitas portofolionya dengan ketat. Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) stabil di level 2,1%, sementara rasio Loan at Risk (LAR) justru menunjukkan perbaikan menjadi 4,3%.
Pendekatan konservatif juga terlihat dari pencadangan yang sangat kuat, dengan NPL Coverage mencapai 356%. Kekuatan permodalan bank pun termasuk yang terbaik di industri, dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) 34,6% dan CET-1 sebesar 26,6%, memberikan bantalan yang lebih dari cukup untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Kontribusi Unit Syariah dan Visi Ke Depan
Unit Usaha Syariah (UUS) Permata Bank turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan laba operasional sebelum provisi sebesar 8,1% menjadi Rp785,3 miliar. Rasio CASA di unit syariah bahkan tercatat sangat tinggi, mencapai 73,6%, yang berada di atas rata-rata industri perbankan syariah nasional.
Meliza menegaskan bahwa strategi ke depan tidak hanya berfokus pada skala, tetapi pada relevansi dan nilai jangka panjang bagi nasabah.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari-hari, bisnis, dan keluarga mereka,” ungkapnya.
Melalui penguatan kapabilitas digital, inovasi produk, dan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan, pihaknya berkomitmen membangun bank yang bertumbuh secara bertanggung jawab dan tetap dekat dengan nasabah.
Artikel Terkait
IHSG Menguat Tipis ke 8.295, Didukung Sektor Energi dan Bahan Baku
Israel Resmi Bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza, Netanyahu Fokuskan Kunjungan ke AS pada Ancaman Iran
Presiden Prabowo Pantau Pemulihan Pascabencana Sumatra, 5.500 Rumah Selesai Dibangun
Heineken PHK 6.000 Karyawan, Saham Justru Naik 3%