"Pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional ini memberi lampu hijau bagi negara mana pun di dunia yang ingin menyerang negara lain untuk merebut sumber dayanya atau mengganti pemerintahannya. Inilah logika kekerasan yang mengerikan yang digunakan Putin untuk membenarkan serangan brutalnya terhadap Ukraina."
Bagi Sanders, ini adalah imperialisme dalam bentuknya yang paling telanjang. Seolah-olah AS punya hak untuk mendominasi belahan bumi lain. Ia mengingatkan kembali Doktrin Monroe yang kerap dihidupkan oleh pemerintahan Trump, termasuk obrolan terbuka tentang menguasai cadangan minyak Venezuela.
"Ini adalah imperialisme murni," imbuhnya. "Hal ini mengingatkan pada bab-bab tergelap intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin, yang telah meninggalkan warisan yang buruk. Ini akan dan seharusnya dikutuk oleh dunia demokratis."
Di sisi lain, Sanders merasa Trump salah fokus. Daripada berpetualang militer di luar negeri, presiden seharusnya mengurusi masalah dalam negeri yang sedang pelik. Ekonomi yang terpuruk, sistem kesehatan yang ambruk, dan ancaman AI terhadap lapangan kerja adalah krisis nyata yang menunggu.
"Trump berkampanye sebagai presiden dengan platform 'America First'. Ia mengklaim sebagai 'kandidat perdamaian'," pungkas Sanders dengan nada getir.
"Pada saat 60 persen warga Amerika hidup dari gaji ke gaji, ketika sistem kesehatan kita sedang runtuh, ketika rakyat tidak mampu membeli rumah, dan ketika kecerdasan buatan mengancam jutaan lapangan kerja, sudah saatnya presiden fokus pada krisis yang dihadapi negara ini dan mengakhiri petualangan militernya di luar negeri."
Kesimpulannya sederhana: "Trump gagal menjalankan tugasnya untuk 'mengatur' Amerika Serikat. Ia seharusnya tidak mencoba untuk 'mengatur' Venezuela."
Artikel Terkait
Ahli Hukum UI: Peluang Polda Metro Hentikan Kasus Ijazah Jokowi Hampir Mustahil
Ade Darmawan Tanya Jalur Hukum, Tapi Tudingan ke Demokrat Dibiarin Berbulan-bulan
Kapal The Angkal 6 Terbakar, 97 Orang Dievakuasi di Tengah Laut Bali
Pandji Pragiwaksono Buka Buka-bukaan di Mens Rea, Panggung Komedi Jadi Ruang Kritik