Bernie Sanders tak lagi bisa menahan amarahnya. Senator AS itu melontarkan kritik pedas terhadap Donald Trump, menyusul serangan dan upaya penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Bagi Sanders, langkah Trump itu bukan cuma gegabah, tapi juga bukti nyata penghinaan terhadap Konstitusi dan hukum.
Intinya, Sanders menegaskan Presiden AS sama sekali tak punya hak untuk membawa Amerika ke medan perang secara sepihak. Apalagi, urusan mengatur negara lain.
"Donald Trump sekali lagi menunjukkan sikap meremehkannya terhadap Konstitusi dan supremasi hukum," tegas Sanders lewat pernyataan di akun resminya, @SenSanders, pada Minggu (4/1).
"Presiden Amerika Serikat TIDAK memiliki hak untuk secara sepihak membawa negara ini ke perang, bahkan terhadap seorang diktator korup dan brutal seperti Maduro. Amerika Serikat juga TIDAK memiliki hak, sebagaimana disampaikan Trump pagi ini, untuk 'mengatur' Venezuela."
Politikus yang jadi senator terlama dalam sejarah Kongres itu mendesak tindakan segera. Ia mendorong Kongres untuk segera meloloskan Resolusi Kewenangan Perang atau War Powers Resolution. Tujuannya jelas: membatasi wewenang Trump dalam menggunakan kekuatan militer seenaknya.
"Kongres harus segera meloloskan Resolusi Kewenangan Perang untuk menghentikan operasi militer ilegal ini," jelasnya, "dan menegaskan kembali tanggung jawab konstitusionalnya."
Namun begitu, dampaknya menurut Sanders jauh lebih mengerikan. Ia memperingatkan bahwa aksi Trump justru mengancam keamanan AS sendiri. Logika kekerasan semacam ini, katanya, membuka pintu lebar-lebar bagi negara lain untuk menyerang tetangganya seenak hati.
"Serangan Trump terhadap Venezuela akan membuat Amerika Serikat dan dunia menjadi kurang aman," ujarnya.
"Pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional ini memberi lampu hijau bagi negara mana pun di dunia yang ingin menyerang negara lain untuk merebut sumber dayanya atau mengganti pemerintahannya. Inilah logika kekerasan yang mengerikan yang digunakan Putin untuk membenarkan serangan brutalnya terhadap Ukraina."
Bagi Sanders, ini adalah imperialisme dalam bentuknya yang paling telanjang. Seolah-olah AS punya hak untuk mendominasi belahan bumi lain. Ia mengingatkan kembali Doktrin Monroe yang kerap dihidupkan oleh pemerintahan Trump, termasuk obrolan terbuka tentang menguasai cadangan minyak Venezuela.
"Ini adalah imperialisme murni," imbuhnya. "Hal ini mengingatkan pada bab-bab tergelap intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin, yang telah meninggalkan warisan yang buruk. Ini akan dan seharusnya dikutuk oleh dunia demokratis."
Di sisi lain, Sanders merasa Trump salah fokus. Daripada berpetualang militer di luar negeri, presiden seharusnya mengurusi masalah dalam negeri yang sedang pelik. Ekonomi yang terpuruk, sistem kesehatan yang ambruk, dan ancaman AI terhadap lapangan kerja adalah krisis nyata yang menunggu.
"Trump berkampanye sebagai presiden dengan platform 'America First'. Ia mengklaim sebagai 'kandidat perdamaian'," pungkas Sanders dengan nada getir.
"Pada saat 60 persen warga Amerika hidup dari gaji ke gaji, ketika sistem kesehatan kita sedang runtuh, ketika rakyat tidak mampu membeli rumah, dan ketika kecerdasan buatan mengancam jutaan lapangan kerja, sudah saatnya presiden fokus pada krisis yang dihadapi negara ini dan mengakhiri petualangan militernya di luar negeri."
Kesimpulannya sederhana: "Trump gagal menjalankan tugasnya untuk 'mengatur' Amerika Serikat. Ia seharusnya tidak mencoba untuk 'mengatur' Venezuela."
Artikel Terkait
Profesor UI Jelaskan Aturan Tipikor dalam KUHP Baru Tak Akan Seragam untuk Semua Sektor Bisnis
Delapan Takjil Khas Sulsel yang Wajib Ada Saat Berbuka Puasa
Mahfud MD Soroti Aparat Penegak Hukum sebagai Akar Masalah Utama
Menko Hukum Yusril Kecam Penganiayaan Remaja oleh Oknum Brimob di Tual