Di sisi lain, Mandi-Mandi bukan cuma soal introspeksi diri. Lebih dari itu, ini adalah tanda kesiapan warga menyongsong apa yang akan datang. Semacam penyegaran jiwa sebelum menjalani rutinitas lagi.
Nuansa kebersamaannya terasa sekali. Saling kejar, coreng, lalu tertawa lepas. Hubungan antarwarga makin erat karenanya. Inilah warisan leluhur yang masih bertahan, dijaga turun-temurun di tengah gempuran modernisasi Jakarta.
Kekeluargaan. Mungkin itu kata yang tepat. Semangat itu masih kental terasa di Kampung Tugu, dan Mandi-Mandi adalah bukti nyatanya.
Artikel Terkait
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Menteri Pertanian Soroti Rembesan Gula Rafinasi yang Rugikan Petani dan BUMN
Prabowo Ingatkan Ancaman Manipulasi AI dan Akun Palsu di Media Sosial
Warga Makassar Tertipu Rp12 Juta dalam Penawaran Tukar Uang Baru di Facebook