Di sisi lain, Mandi-Mandi bukan cuma soal introspeksi diri. Lebih dari itu, ini adalah tanda kesiapan warga menyongsong apa yang akan datang. Semacam penyegaran jiwa sebelum menjalani rutinitas lagi.
Nuansa kebersamaannya terasa sekali. Saling kejar, coreng, lalu tertawa lepas. Hubungan antarwarga makin erat karenanya. Inilah warisan leluhur yang masih bertahan, dijaga turun-temurun di tengah gempuran modernisasi Jakarta.
Kekeluargaan. Mungkin itu kata yang tepat. Semangat itu masih kental terasa di Kampung Tugu, dan Mandi-Mandi adalah bukti nyatanya.
Artikel Terkait
Ketika Panik Menyerang, Mengapa Kita Justru Berlari Menuju Bahaya?
Grup True Crime di Medsos Rekrut 70 Anak Indonesia untuk Ideologi Ekstrem
Keterangan Ahli Goyahkan Gugatan CMNP ke Hary Tanoe
Prabowo Ungkap Godaan Sogok dan Target MBG 2026 di Tengah Sawah Karawang