Bayangkan, setelah terbang sejauh 20.444 kilometer hampir separuh keliling Bumi melintasi Samudra Atlantik, kami justru disuguhkan racikan kopi Sumatra dan Aceh. Tempatnya? Di Hacienda Alsacia, sebuah perkebunan kopi seluas 240 hektare yang terletak di lereng Gunung Poás, salah satu gunung berapi aktif di Kosta Rika.
Di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, kami menyeruput blend spesial yang memadukan tiga jenis arabika pilihan: biji terbaik dari Hacienda Alsacia sendiri, kopi Sumatra yang matang sempurna, dan si pekat berbadan tebal dari Aceh. Hasil sangraiannya luar biasa. Rasa yang kaya dan kompleks itu menghadirkan aroma kayu cedar, tekstur seperti sirup, dengan nuansa lemon, mapel, dan manisan jahe yang menggelitik. Benar-benar sebuah perjalanan yang terbayar lunas.
"
Hari itu, Kamis 11 Desember 2025, langit di atas Alajuela cerah membiru dihiasi angin kencang. Itu adalah hari terakhir kami mengikuti Origin Experience 2026. Selama tiga hari, kami berkeliling perkebunan kopi Hacienda Alsacia, menyelami langsung proses dari biji hingga cangkir.
Origin Experience pada dasarnya adalah tur eksklusif untuk menyaksikan sendiri siklus hidup kopi. Mulai dari pembibitan, perawatan pohon, pemanenan, pengolahan, hingga penyeduhan akhir. Di sini, kami bahkan sempat menanam bibit kopi dan mempelajari pertanian berkelanjutan. Intinya, tur ini membawa kita berjumpa dengan orang-orang yang bekerja keras di balik secangkir kopi nikmat yang kita minum sehari-hari.
Lalu, mengapa Kosta Rika yang dipilih?
Negara yang Hanya Menanam Arabika
Di sini, nyaris mustahil menemukan robusta. Hampir seratus persen adalah arabika. Negara seluas 51 ribu kilometer persegi ini punya aturan ketat: petani di sebagian besar wilayahnya hanya boleh menanam varietas arabika. Kebijakan itu sudah berlaku sejak 1989, dikeluarkan oleh Institut Kopi Kosta Rika (ICAFE).
Regulasi ini mungkin salah satu yang paling tegas di dunia, dan punya tujuan jelas: mempertahankan reputasi Kosta Rika sebagai penghasil arabika berkualitas tinggi. Harganya di pasar global memang jauh lebih mahal dibanding robusta, yang tentu menjadi jaminan pendapatan lebih baik bagi para petani lokal.
Soal rasa, arabika memang juara. Profilnya lebih kompleks dan halus, seringkali mengandung nada buah, bunga, atau cokelat. Kadar gulanya hampir dua kali lipat robusta, sementara kafeinnya lebih rendah sehingga rasa pahitnya tidak mendominasi. Tapi, keunggulan ini dibayar mahal. Arabika itu manja. Ia hanya mau tumbuh optimal di dataran tinggi, di atas 1.000 mdpl, dengan suhu dingin. Ia juga rentan terhadap hama dan penyakit, terutama karat daun. Berbanding terbalik dengan robusta yang sesuai namanya lebih tangguh dan bisa hidup di dataran rendah.
Perawatan yang intensif itu berarti biaya produksi yang lebih tinggi. Apalagi di Kosta Rika, yang punya standar jaminan sosial dan perburuhan yang ketat. Pemilik kebun wajib mendaftarkan seluruh pekerjanya, termasuk buruh musiman dan migran, untuk mendapatkan layanan kesehatan hingga pensiun.
Seperti diungkapkan Marco Sanchez, yang keluarganya memiliki kebun kopi turun-temurun di Santo Domingo. "Harga jual kopi dari sini tidak bisa murah," katanya. Biaya untuk upah dan jaminan sosial para pekerja banyak di antaranya berasal dari Nikaragua dan Panama cukup signifikan. Namun, standar hidup yang baik ini justru yang membuat pekerja seperti Augusto Chamorro dan Cristina Pérez betah kembali setiap musim panen.
Hacienda Alsacia: Lebih Dari Sekadar Perkebunan
Nama "Hacienda" berarti perkebunan besar, sementara "Alsacia" merujuk pada dataran tinggi tempatnya berada. Kawasan seluas 240 hektare di lereng Gunung Poás ini memiliki tanah vulkanik yang subur, sempurna untuk arabika.
Awalnya, Alsacia adalah perkebunan keluarga yang hampir bangkrut diterpa wabah karat daun. Nasibnya berubah total ketika diakuisisi Starbucks pada 2013. Ini menjadi satu-satunya kebun kopi yang dimiliki dan dikelola langsung oleh raksasa coffee shop tersebut.
Misi mereka pun bergeser. Dari sekadar memproduksi kopi, Alsacia bertransformasi menjadi pusat riset dan inovasi kopi global. Tujuannya mulia: mencari solusi untuk melindungi masa depan kopi dunia dari ancaman penyakit dan perubahan iklim.
Caranya? Dengan pendekatan agronomi terbuka. Mereka meneliti varietas baru yang tahan penyakit, mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan, dan yang terpenting, membagikan semua temuan serta bibitnya secara cuma-cuma kepada petani di seluruh dunia baik yang menjadi pemasok Starbucks maupun bukan.
"Itulah intinya," ujar Carlos Mario Rodriguez, Kepala Riset dan Pengembangan Global Starbucks, suatu sore di Alsacia. "Memastikan bahwa 10 atau 20 tahun mendatang, kita masih punya cukup pasokan kopi berkualitas."
Selain riset, sejak 2018 mereka juga membuka Visitor Center untuk agrowisata. Dengan melihat langsung prosesnya, diharapkan kesadaran publik tentang pentingnya keberlanjutan industri kopi akan tumbuh.
Memang, kopi bukan sekadar komoditas. Di negara-negara seperti Kosta Rika dan Indonesia, ia adalah penggerak ekonomi, penopang devisa, dan sumber hidup bagi jutaan keluarga. Lebih dari 125 juta orang di dunia bergantung pada industri ini. Uang dari ekspor kopi mengalir langsung ke kantong petani kecil di pelosok desa, menjadi alat pemerataan ekonomi yang efektif.
Kopi menghubungkan petani di pedesaan dengan konsumen di kota-kota besar dunia. Itu sebabnya, pada 2004, Starbucks mendirikan Farmer Support Center (FSC) pertama di Hacienda Alsacia, yang kemudian diikuti sembilan lokasi lain, termasuk di Sumatra.
Pusat Dukungan Petani Hadapi Perubahan Iklim
Farmer Support Center (FSC) berdiri beriringan dengan peluncuran program C.A.F.E Practices sebuah standar pengadaan etis yang mengukur aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan di perkebunan kopi.
Melalui FSC, berbagai bantuan teknis diberikan gratis kepada petani untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan kebun mereka.
"Nama sudah jelas, tujuannya mendukung petani," kata Marcelo Elizondo, Manajer FSC di Kosta Rika. Latar belakangnya di agrikultur regeneratif membuatnya paham betul tantangan terbesar saat ini: perubahan iklim.
"Pohon kopi ini rentan. Berbeda dengan pisang yang bisa diganti setiap dua tahun, kopi adalah tanaman tahunan yang terpapar cuaca selama 20-30 tahun. Ia tidak bisa lari," jelas Marcelo. "Masalahnya sekarang cuma dua: kekeringan ekstrem atau hujan berlebihan."
FSC hadir dengan berbagai teknik baru, dari irigasi hingga pengelolaan pohon pelindung, untuk membantu tanaman bertahan. Saat ini, ada 10 FSC yang tersebar dari Amerika hingga Asia, saling terhubung dan bertukar ilmu.
"Kami rutin bertemu, bahkan baru-baru ini berkumpul di Kolombia. Tim dari Indonesia juga datang dan kami menghabiskan waktu lebih dari seminggu bersama, belajar metode terbaik," tutur Marcelo.
Christian Hackenberg, seorang green coffee trader di Starbucks, menekankan pentingnya mendukung petani muda. "Mereka ingin belajar teknik dan teknologi baru. Itulah kuncinya," ujarnya.
Rekannya, Beto Pimentel, mencontohkan keterlibatan aktif FSC di Indonesia. "Di Jawa Barat, kami mengadakan lokakarya dan menguji sampel tanah untuk rekomendasi pupuk yang tepat," katanya.
Interaksi global ini makin intens. Felix Monge dari koperasi Coope Libertad di Kosta Rika dengan bangga bercerita, "Tahun ini, untuk pertama kalinya kopi kami masuk pasar Malaysia. Sebuah langkah penting menuju Asia Tenggara."
Solidaritas Saat Bencana Melanda Sumatra
Hubungan antara pembeli dan pemasok kadang melampaui urusan dagang. Ketika banjir bandang menerjang Sumatra, Starbucks Foundation memberikan donasi sekitar 50 juta dolar AS untuk bantuan kemanusiaan melalui organisasi seperti Save the Children.
"Hati kami bersama mereka yang terdampak," ujar Kelly Goodejohn, Chief Social Impact Officer Starbucks. Donasi itu dialokasikan untuk air bersih, makanan, obat-obatan, dan kebutuhan mendesak lainnya.
Sumatra memang tempat spesial bagi Starbucks. Kopi dari pulau ini adalah fondasi dari banyak blend ikonik mereka sejak 1971. Cita rasanya yang kuat, berbadan tebal, dan beraroma tanah sangat khas.
"Itu kopi favorit saya. Cangkir pertama saya setiap pagi selalu kopi Sumatra," aku Beto Pimentel yang besar di perkebunan kopi Brasil.
Lebih dari 70.000 petani Sumatra menjadi bagian dari rantai pasokan Starbucks. Untuk mendukung hal ini, Starbucks mendirikan Farmer Support Center di Berastagi, Sumatera Utara, pada 2015.
Mencicipi Kopi dari Seluruh Penjuru Dunia
Salah satu aktivitas paling seru dalam Origin Experience adalah sesi mencicipi kopi. Seperti mencicipi anggur, aktivitas ini butuh kepekaan untuk menangkap nuansa rasa dan aroma yang kompleks.
Brittany Zeller dari tim Global Coffee Starbucks yang memandu sesi itu menjelaskan, "Rasa kopi bisa berubah drastis karena banyak faktor: suhu air, tingkat sangrai, bahkan suhu saat meminumnya."
Timnya di Seattle bisa melakukan coffee cupping hingga 600 kali sehari hanya untuk memastikan kualitas dan konsistensi rasa.
Di Hacienda Alsacia, Brittany mengajak kami bermain tebak-tebakan. Tiga gelas kopi berjejer. "Coba tebak, asalnya dari mana?"
Suasana pun riuh. Setelah semua mencoba, Brittany membuka jawaban: gelas hijau dari Amerika Latin (Hacienda Alsacia), gelas tanpa label dari Sumatra, dan gelas merah muda dari Afrika (Etiopia).
Dan sekali lagi, kopi Sumatra hadir membuktikan kelasnya.
Perjalanan panjang mengitari separuh Bumi ini pada akhirnya justru membawa kami pulang pada sebuah kesadaran. Bahwa kekayaan negeri sendiri, seperti cita rasa kopi Sumatra yang mendunia, adalah magnet yang tak pernah pudar.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun