Rencana kenaikan tarif TransJakarta ternyata tak jadi diterapkan, setidaknya untuk saat ini. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Nirwono Yoga, membenarkan bahwa penundaan ini dilakukan atas permintaan dari pemerintah pusat.
“Kenaikan itu ditunda karena atas permintaan pemerintah pusat,” ujar Nirwono.
Menurutnya, keputusan ini kemungkinan besar diambil lantaran situasi ekonomi yang lagi kurang bersahabat. “Ini pasti lebih kepada pertimbangan situasi ekonomi yang kurang kondusif,” tambahnya.
Pernyataan itu dia sampaikan dalam sebuah diskusi bertajuk 'Menjaga Keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran' di Jakarta, Jumat lalu. Nirwono melihat, pemerintah pusat tentu punya pertimbangan tersendiri, terutama soal daya beli masyarakat yang lagi tertekan. Makanya, permintaan untuk menunda kenaikan tarif pun disampaikan ke Pemprov DKI.
Jadi, kapan tarif bus itu bakal naik? Tampaknya kita harus menunggu lama. “Tentu mesti ada pertimbangan sampai kapannya sangat tergantung dengan kebijakan dari pemerintah pusat,” tegas Nirwono. Nasib kenaikan tarif sepenuhnya ada di tangan pemerintah pusat.
Di sisi lain, persoalan anggaran justru jadi tantangan serius. Nirwono membeberkan, subsidi untuk TransJakarta di APBD murni 2026 cuma disepakati Rp 3,7 triliun. Angka itu jauh lebih kecil dibanding realisasi tahun 2025 yang mencapai Rp 4,1 triliun. Padahal, untuk mempertahankan kualitas layanan yang sama dengan tahun lalu, dibutuhkan dana sekitar Rp 4,8 triliun.
“Kalau anggarannya hanya Rp 3,7 triliun, maka ada dua pilihan,” katanya dengan nada prihatin. “Layanannya turun atau layanannya berhenti di tengah tahun. Tentu ini tidak kita inginkan.”
Nah, agar layanan tetap jalan sampai akhir tahun, Pemprov DKI punya rencana cadangan. Mereka berencana menambal kekurangan itu lewat APBD Perubahan yang akan dibahas nanti di pertengahan tahun. “Selisih anggaran sekitar Rp 1,1 triliun akan dimasukkan dalam APBD Perubahan, sehingga layanan TransJakarta tetap sama dengan 2025 sampai akhir tahun,” jelasnya.
Dengan begitu, untuk sementara warga Jakarta masih bisa bernapas lega. Tarif TransJakarta belum akan naik dari Rp 3.500 ke Rp 5.000 seperti yang sempat ramai dibicarakan.
Namun begitu, bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali. Kebijakan yang sedang digodok sekarang justru mengarah pada pengurangan subsidi. Ini imbas dari pemotongan dana transfer ke daerah oleh pusat. Tapi tenang, semua masih sebatas kajian internal yang dibahas bersama Dinas Perhubungan dan DPRD DKI. Belum ada keputusan final.
Artikel Terkait
Ledakan di Mykolaiv Lukai Tujuh Polisi, Diduga Serangan yang Ditargetkan
Warga Kalideres Tolak Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium, Protes Minim Sosialisasi
Gunung Rinjani Dibuka Kembali 28 Maret 2026 dengan Sistem Keamanan Baru
OSO Bela Pemberian Jet Pribadi ke Menag: Tak Ada Hubungan dengan Dinas