Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan perintah untuk mengintensifkan operasi militer di Lebanon dengan target utama menghancurkan kelompok Hizbullah. Pernyataan tersebut disampaikan melalui sebuah video yang diunggah di kanal Telegram pribadinya pada Senin, 25 Mei 2026, menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung lama di kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan komitmennya untuk mempercepat laju operasi. "Saya telah memerintahkan percepatan operasi kami yang lebih besar lagi," ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa Hizbullah terus melancarkan serangan terhadap Israel menggunakan drone, termasuk jenis drone serat optik. Meskipun demikian, Netanyahu mengklaim bahwa pihaknya tengah menyiapkan langkah-langkah penanggulangan yang lebih masif. "Kami akan meningkatkan serangan, menambah daya tembak, dan kami akan menghancurkan mereka," tegasnya.
Pernyataan keras tersebut muncul bersamaan dengan laporan serangan udara Israel di Lebanon selatan yang menewaskan empat orang dan melukai tiga lainnya. Media lokal Lebanon, NNA, melaporkan bahwa insiden ini merupakan pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat. Korban jiwa dilaporkan berasal dari serangan yang menghantam area pemakaman di Kota Kafr Roummane, wilayah Nabatieh.
Sementara itu, beberapa jam sebelum insiden tersebut, pesawat tempur Israel juga dilaporkan menjatuhkan munisi fosfor pembakar di kawasan hutan Qalila, Lebanon selatan. Akibatnya, kebakaran melanda kebun jeruk dan lahan pertanian di sekitar lokasi. Situasi ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di daerah yang telah lama menjadi medan pertempuran.
Sejak 2 Maret, Israel disebut telah memperluas jangkauan ofensif militernya di Lebanon selatan. Data dari pejabat Lebanon mencatat bahwa hampir 3.200 orang tewas dan lebih dari 9.600 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel. Meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli, militer Israel dinilai masih terus melancarkan serangan harian serta penghancuran rumah-rumah warga di wilayah selatan Lebanon. Pelanggaran berulang ini menimbulkan keraguan terhadap efektivitas perjanjian damai yang telah disepakati.
Artikel Terkait
314.000 Lowongan Kerja Luar Negeri Masih Terbuka, Baru 24 Persen Terisi
Napi di Lapas Tangerang Produksi Bataton dan Paving Block dari Limbah Batu Bara, Digaji Per Bulan
Napi Lapas Tangerang Produksi Paving Block dari Limbah Batu Bara, Digaji hingga Rp400 Ribu Per Hari
Polisi Gagalkan Pencurian Motor di Depan Kampus Trisakti, Satu Pelaku Babak Belur Dihakimi Massa