Sejak subuh, suasana di kompleks Pondok Modern Darussalam Gontor sudah tak biasa. Ribuan orang berduyun-duyun memadati area, dari pelataran masjid hingga jalan-jalan di sekitar rumah duka. Mereka datang untuk mengantarkan kepergian sang pemimpin, KH Amal Fathullah Zarkasyi, yang jenazahnya dishalatkan di Masjid Jami' Gontor Pusat, Ponorogo, Minggu pagi itu.
Rumah duka tak pernah sepi. Silih berganti, wajah-wajah datang menyampaikan duka. Ada alumni yang sudah beruban, santri muda, hingga sejumlah tokoh nasional. Kerumunan yang begitu padat dan beragam itu, bagi banyak yang hadir, adalah bukti nyata betapa besar pengaruh dan rasa hormat untuk almarhum.
Di tengah lautan pelayat, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) turut menyampaikan penghormatan. Ia mengenang Kiai Amal bukan sekadar sebagai pimpinan pondok, melainkan seorang pejuang.
“Salah satu pemikiran beliau adalah lahirnya Undang-Undang Pesantren. Saya menyaksikan langsung bahwa itu bagian dari perjuangan beliau demi kemaslahatan pesantren, bukan hanya Gontor, tetapi pesantren di seluruh Indonesia,” kata HNW.
Menurutnya, kiprah almarhum terasa dari hal-hal besar seperti itu, tapi juga dari hal-hal sederhana. Meski memegang tampuk kepemimpinan, Kiai Amal dikenal sangat rendah hati dan dekat dengan kehidupan santri sehari-hari.
“Beliau sering memberi saran dan masukan kepada para alumni. Bukan hanya Gontor yang kehilangan, tetapi Indonesia juga kehilangan sosok beliau,” ujarnya.
Pandangan serupa diungkapkan Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor. Ia menekankan bahwa perjuangan almarhum memberikan fondasi hukum yang kuat bagi dunia pesantren.
“Perjuangan beliau membuat pesantren memiliki payung hukum,” tegas Hamid.
“Lulusan pondok kini dapat melanjutkan ke perguruan tinggi tanpa harus melalui ujian negara. Ini jasa besar yang harus terus kita ingat dan lanjutkan,” lanjutnya.
Usai shalat jenazah yang khidmat, prosesi berlanjut ke pemakaman. Diiringi doa dan linangan air mata, jenazah almarhum kemudian dibawa ke peristirahatan terakhirnya di kompleks makam keluarga pesantren. Suasana hening menyelimuti, hanya terdengar lirisan doa dan langkah para pelayat yang melepas kepergian seorang guru bangsa.
Artikel Terkait
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim
Pelaku Curanmor Bersenpi Tewas Ditembak, Polisi Ringkus Satu Komplotan di Tulang Bawang
Kelebihan Biaya Perjalanan Luar Negeri Presiden Prabowo Ditanggung Pribadi, Klaim Sekretaris Kabinet
Polri Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Berbasis Data di Jalur Puncak, Volume Kendaraan Capai 40.000 per Hari