✍🏻 Balqis Humaira
Baik, saya akan jawab dengan blak-blakan. Biar jelas, tidak berputar-putar.
Bayangkan jika setiap berita yang tak memuji langsung dicap bermotif dendam, iri, atau mau menjatuhkan. Itu sama saja dengan meminta publik menutup mata, mematikan pikiran, dan hanya membuka tangan untuk bertepuk tangan. Situasi seperti itu, kalau dipikir-pikir, sungguh berbahaya.
Saya tak punya urusan pribadi dengan Raffi Ahmad. Tak ada sejarah konflik, tak ada luka batin, apalagi dendam kesumat. Yang saya lihat cuma satu: posisinya di ruang publik sekarang sudah jauh melampaui sekadar seorang artis.
Nah, di sinilah logikanya harus berubah.
Begitu seseorang punya pengaruh besar, punya akses ke lingkaran kekuasaan, dan suaranya didengar jutaan orang, dia otomatis menjadi objek pertanyaan publik. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memahami peran yang sebenarnya dia mainkan.
Kalau ada fakta yang terungkap dan membuat kita tidak nyaman, jangan buru-buru menyalahkan pemberitaannya. Bisa jadi, penyebabnya adalah kenyataan itu sendiri yang memang tak selembut citra yang selama ini dibangun.
Lalu soal tuduhan "ingin menjatuhkan". Menjatuhkan itu kalau caranya mengarang, memfitnah, atau berbohong. Tapi kalau yang dibahas adalah relasi, konteks, dan pola yang bisa diverifikasi kebenarannya itu namanya analisis. Bukan serangan.
Masalahnya sekarang begini. Wajah yang disukai publik sering kali dipakai sistem untuk mengurangi kewaspadaan kita. Jadi semacam tameng halus, peredam gejolak, atau shock absorber. Lalu, begitu ada yang berani mengkritik atau mempertanyakan, serbuan langsung datang: "Kok nyerang?", "Iri, ya?", "Dendam apa?"
Padahal, yang coba dibongkar bukan sekadar orangnya, melainkan fungsi yang dia jalankan dalam sebuah sistem yang lebih besar.
Anda boleh suka Raffi Ahmad. Anda boleh jadi fans berat. Tapi jangan pernah melarang orang lain untuk menggunakan akalnya.
Sebab, dukungan buta tanpa logika bukanlah bentuk dukungan yang sehat. Itu adalah mati rasa, yang dibungkus rapi dengan kemasan hiburan.
Jadi, santai saja. Tak ada dendam di sini. Tak ada niat menjatuhkan.
Yang ada cuma satu: hak publik untuk bertanya, tanpa harus minta izin dari klub penggemar mana pun.
Sekarang, mari kita lihat efek domino-nya. Biar terasa bahwa ini bukan persoalan satu orang, tapi pola pikir yang berbahaya jika dibiarkan hidup dalam iklim bernegara.
Kalau logika buzzer semacam ini dipelihara "Siapa pun yang mengkritik figur publik pasti bermotif dendam, iri, atau mau menjatuhkan" efeknya tak akan berhenti pada satu nama.
Pertama, ruang kritik akan mati pelan-pelan. Orang akan berpikir seribu kali sebelum angkat bicara. Bukan karena salah, tapi karena takut motifnya diseret-seret ke ranah pribadi. Ujung-ujungnya, yang berani bersuara cuma dua jenis: buzzer bayaran dan para penjilat.
Kedua, kekuasaan kehilangan alarm. Dalam negara yang sehat, kritik itu ibarat alarm kebakaran. Kalau alarm terus dibungkam karena dianggap "mengganggu", apinya tak akan padam yang habis adalah rumah kita sendiri.
Ketiga, figur populer naik kasta jadi simbol yang tak tersentuh. Tak boleh dikritik, tak boleh ditanya, apalagi dianalisis. Sentuh sedikit saja, seruan "kurang ajar!" atau "fitnah!" langsung berhamburan. Padahal, negara ini bukan fandom. Dan jabatan publik bukan sesi meet and greet.
Keempat, logika publik rusak. Generasi muda akan belajar satu hal: yang penting bukan "mana yang benar", tapi "siapa yang populer". Bukan data yang diutamakan, melainkan siapa yang disayang massa. Jika ini terus berlanjut, lambat laun kita bukan lagi memilih kebijakan terbaik, tapi memilih wajah yang paling menarik di layar.
Kelima dan ini yang paling seram negara jadi anti-kritik tapi pro-pencitraan. Semuanya dibikin rapi di permukaan. Semua dikemas ramah dan penuh senyum. Tapi di dalamnya? Tak ada yang berani membongkar, karena takut langsung dicap sebagai pembenci. Pada akhirnya, rakyat cuma jadi penonton pasif. Tepuk tangan saat disuruh, diam saja saat dirugikan.
Makanya, ini penting untuk ditegaskan. Kritik terhadap Raffi Ahmad atau siapa pun bukan soal menjatuhkan pribadi seseorang. Ini tentang menjaga nalar publik agar tidak ambruk bersama logika bernegara kita. Kalau hari ini kritik dibungkam dengan kata "dendam", besok kebijakan dibungkus dengan dalih "niat baik", lusa kesalahan dibela dengan imbauan "jangan ribut". Dan tanpa disadari, kita terbangun di sebuah negara yang rame, populer, viral, tapi sama sekali tidak kebal dari salah arah.
Jadi, masalahnya bukan pada beritanya. Masalahnya ada pada logika pembungkaman yang sedang coba dinormalisasi. Dan kalau kita diam saja, yang jatuh bukan cuma satu orang. Yang tumbang adalah akal sehat kita dalam bernegara.
Artikel Terkait
Profesor UI Jelaskan Aturan Tipikor dalam KUHP Baru Tak Akan Seragam untuk Semua Sektor Bisnis
Delapan Takjil Khas Sulsel yang Wajib Ada Saat Berbuka Puasa
Mahfud MD Soroti Aparat Penegak Hukum sebagai Akar Masalah Utama
Menko Hukum Yusril Kecam Penganiayaan Remaja oleh Oknum Brimob di Tual