Kisah Noriega dan Bayangan Panjang yang Mengintai Maduro

- Minggu, 04 Januari 2026 | 12:40 WIB
Kisah Noriega dan Bayangan Panjang yang Mengintai Maduro

Banyak orang bertanya, kenapa AS tidak dikutuk habis-habisan seperti Rusia saat serang Ukraina?

Jawabannya simpel: karena AS adalah negara adidaya. Yang terkuat. Dalam politik internasional, yang kuat punya hak veto terhadap realitas.

Alasan narkoba itu cuma untuk konsumsi domestik. Rakyat AS butuh pembenaran. Untuk dunia luar? AS tak perlu banyak penjelasan. Bukan berarti negara lain setuju, tapi itulah realitas pahitnya.

Di tingkat global, keadilan itu ilusi. Kenapa? Karena tidak ada pemerintahan dunia.

PBB bukan pemerintah global. Mereka tak punya polisi atau tentara sendiri. PBB cuma bisa jalan kalau negara-negara besar sepakat. Kalo nggak, ya mandek. ICC dan ICJ pun cuma upaya simbolis. Tanpa otoritas yang punya gigi, hukum internasional cuma jadi selebaran ancaman.

Lalu, kenapa nggak bikin pemerintahan dunia saja?

Siapa yang mau menyerahkan kedaulatannya? Nggak ada. Uni Eropa saja yang coba integrasi lebih dalam sudah ribut sendiri. Apalagi tingkat global.

Dan kalaupun ada, belum tentu adil. Kekuasaan akan tetap di tangan yang paling kuat. Persis seperti di dalam negeri mana pun, yang berkuasa tetaplah elit.

Jadi, inilah dasar paling mendasar dalam politik internasional: tidak ada keadilan sejati, karena tidak ada yang bisa memaksanya. Dalam kondisi seperti ini, negara kuat bisa berbuat nyaris semaunya.

Hal yang sama berlaku untuk Rusia dan China. Rusia disanksi habis-habisan, tapi apa Putin akan diseret ke ICC? Nggak mungkin. China pun, kalau suatu hari menyerang Taiwan, mungkin akan diboikot. Tapi dihukum oleh PBB? Jawabannya: tidak.

AS sendiri pun segan berperang langsung dengan mereka. Perang proksi dan sanksi adalah batas maksimalnya. Artinya, kekuasaan memang tidak dimonopoli satu pihak.

Logikanya jadi jelas buat setiap pemimpin. Anda tidak bisa begitu saja jadi pahlawan anti-AS atau anti-adidaya lain. Tapi setiap pilihan punya konsekuensinya sendiri. Mau pro-AS, anti-AS, atau coba main dua kaki semuanya ada risikonya.

Lihat saja Korea Utara. Mereka bertindak seolah punya nuklir karena sadar, pada akhirnya cuma bisa andalkan diri sendiri.

Pemimpin yang bijak, dalam sistem dunia yang kejam dan tak adil ini, adalah yang mampu menjaga rakyat dan negaranya tetap bertahan. Itu saja. Tidak lebih.

(Ayman Rashdan Wong)


Halaman:

Komentar