Nasib Maduro: Sebuah Pertanyaan yang Menggantung
Maduro jelas tidak sendiri. Sejarah panjang Amerika Serikat sebagai negara adidaya, sejak 1945, mencatat setidaknya sembilan pemimpin yang digulingkan secara langsung oleh Washington. Baik lewat operasi militer terbuka maupun lewat permainan gelap CIA.
Daftarnya cukup panjang: mulai dari Mohammad Mosaddegh di Iran (1953), Jacobo Arbenz di Guatemala (1954), hingga yang lebih mutakhir seperti Saddam Hussein di Irak (2003). Belum lagi yang digulingkan secara tidak langsung dengan memanfaatkan kekuatan lokal seperti yang terjadi pada Sukarno atau Gaddafi.
Tapi dari semua nama itu, ada satu yang mirip sekali dengan situasi Maduro sekarang: Manuel Noriega dari Panama.
Keduanya dari Amerika Latin. Keduanya digulingkan oleh presiden dari Partai Republik Noriega oleh Bush Senior. Dan alasan yang dikedepankan pun nyaris sama: perdagangan narkoba. Bahkan ada satu detail yang bikin merinding: tanggal penangkapan mereka berdua sama persis, 3 Januari.
Kebetulan? Rasanya tidak. Sepertinya Trump memang sengaja ingin meniru atau bahkan melampaui prestasi Bush Senior.
Nah, soal Bush Senior ini menarik. Dia sering dianggap kurang "berfungsi" di antara para presiden Republik modern. Tapi dialah yang berhasil mengalahkan Saddam Hussein dalam Perang Teluk 1990-91. Uniknya, setelah menang, Bush Senior tidak serta-merta menjatuhkan Saddam. Dia pikir Irak akan kacau balau kalau Saddam langsung dihabisi. Pasukan AS ditarik, sanksi ekonomi yang dipilih.
Beda dengan anaknya, Bush Jr. Dia tak pikir panjang. Saddam digulingkan, Irak pun hancur hingga sekarang dan malah jatuh ke pangkuan Iran.
Lalu, kenapa Noriega harus jatuh?
Jawabannya sederhana: Panama itu vital buat AS. Di situlah Terusan Panama berada, jalur laut strategis yang menghubungkan pantai timur dan barat Amerika.
Terusan itu sendiri dibangun AS dengan cara yang… ya, bisa dibilang kriminal. Awalnya Panama bagian dari Kolombia. Begitu AS tahu daerah itu cocok untuk terusan, mereka dukung pemberontak Panama merdeka. Sejak itu, Panama jadi sekutu patuh. AS tak akan terima pemimpin di sana yang melawan.
Masalahnya, Noriega main dua wajah. Di depan dia pro-AS, tapi di belakang dia berhubungan dengan negara-negara seperti Kuba.
Ketika ketahuan, AS pun cari alasan. Narkoba jadi tameng. Mereka luncurkan Operasi Just Cause "Operasi Tujuan Mulia", namanya saja sudah ironis. Operasi itu dimulai 20 Desember 1989. Butuh dua minggu untuk menangkap Noriega. Kalo zaman Trump sekarang, mungkin cuma butuh hitungan jam.
Setelah jatuh, AS angkat pemimpin boneka. Noriega diadili di Florida, diganjar 40 tahun penjara. Dia dibebaskan awal tahun 2007 setelah 17 tahun mendekam, tapi tak lama kemudian dipenjara lagi di Panama hingga meninggal pada 2017.
Maduro kemungkinan besar menghadapi jalan yang serupa.
Hukuman mati mungkin terlalu ekstrem, tapi penjara puluhan tahun atau seumur hidup sangat mungkin. Peluang terbaiknya cuma satu: sekutu lamanya seperti China atau Rusia membujuk Trump untuk mengasingkan Maduro. Tapi itu akan membuat Trump terlihat lemah. Jadi, harapannya tipis.
Artikel Terkait
Menteri Bawa Bantuan, Sekolah Korban Banjir Aceh Tamiang Kembali Berdenyut
Nadiem Terdakwa Korupsi Chromebook, Negara Rugi Rp 2,18 Triliun
Jus Jeruk Bukan Satu-satunya: 4 Minuman Ini Lebih Kaya Vitamin C
Menteri Hukum Tegaskan KUHP Baru: Ini Produk Politik, Tak Bisa Memuaskan Semua Pihak