Ledakan di tengah malam itu mengubah segalanya. Menurut laporan The New York Times yang mengutip seorang pejabat Venezuela, serangan udara Amerika Serikat menewaskan sedikitnya 40 orang. Korban berjatuhan, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Di kawasan La Mar Catia, wilayah pesisir di barat Bandara Caracas, sebuah bangunan hunian tiga lantai menjadi sasaran. Reruntuhannya menyisakan duka yang dalam.
Rosa Gonzalez, 80 tahun, menjadi salah satu nama dalam daftar korban. Ia tewas bersama anggota keluarganya. Serangan itu juga mencederai setidaknya satu orang, sementara yang lain kehilangan segala-galanya.
Wilman Gonzalez, keponakan Rosa yang selamat, kini tak punya tempat untuk pulang. Rumahnya rata dengan tanah.
Saat ditanya apa rencana selanjutnya, ia hanya terdiam sejenak. "Saya tidak tahu," ujarnya, terdengar hampa. Kata-kata itu seolah menggambarkan kebingungan yang meluas.
Menurut sejumlah saksi, kepanikan langsung melanda. Jorge, tetangga berusia 70 tahun, merasakan hal yang sama. "Saya kehilangan segalanya," katanya, pilu. Harta bendanya lenyap seketika.
Suasana Mencekam di Caracas
Kala serangan diluncurkan, kebingungan menyelimuti Caracas. Warga berhamburan keluar, berkerumun di jendela dan teras rumah mereka. Listrik di beberapa area pun padam, menambah suasana mencekam.
Emmanuel Parabavis, seorang pegawai humas berusia 29 tahun, mendengar semuanya dari distrik El Valle tempat tinggalnya.
"Dari sini, kami bisa mendengar ledakan di sekitar Fort Tiuna," ujarnya, merujuk pada salah satu pangkalan militer terbesar di Venezuela.
"Saat ini terdengar suara seperti senapan mesin. Ada banyak dentuman dan tembakan," tambah Parabavis, menggambarkan situasi yang masih belum benar-benar reda.
Di sisi lain, dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan yang kontras. Dalam konferensi pers, ia menegaskan tidak ada korban jiwa di pihak militernya.
"Tidak satu pun anggota militer Amerika yang tewas dan tidak satu pun peralatan militer Amerika yang hilang," tegas Trump.
"Kami memiliki banyak helikopter, banyak pesawat, dan sangat banyak personel yang terlibat. Tapi pikirkan hal ini. Tidak satu pun peralatan yang hilang. Dan yang lebih penting, tidak satu pun anggota militer yang tewas," lanjutnya.
Trump menekankan keunggulan militer AS, baik dari sisi personel maupun teknologi persenjataan. Klaim itu menggema jauh dari tangis dan reruntuhan di La Mar Catia.
Artikel Terkait
PBB Kecam Rencana Israel Perluas Pendudukan di Gaza hingga 70 Persen
Kementerian HAM Bantah Tuduhan Manipulasi Partisipasi Publik dalam Revisi UU HAM
DPR: Regulasi Jangan Matikan Sektor Swasta yang Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Polisi Tangkap Pria di Makassar yang Aniaya Ayah Kandung Gegara Uang Judi Online Tak Dipenuhi