Rakyat sudah muak dengan pidato. Mereka menilai dari sikap. Dari pilihan nyata: turun ke lokasi bencana atau bersulang di meja jamuan yang penuh hidangan mewah.
Yang bikin khawatir, ini mulai dinormalisasi. Seolah-olah tak ada yang salah ketika pejabat berpesta di tengah krisis. Kritik dibilang berlebihan, publik disuruh jangan "baper". Empati direduksi jadi cuma masalah persepsi belaka.
Padahal, di banyak negara, pejabat publik justru dengan sadar membatasi gaya hidupnya saat krisis melanda. Bukan karena dipaksa, tapi karena mereka paham betul bahwa jabatan adalah amanah. Bukan lisensi untuk hidup foya-foya.
Di sini, sebaliknya. Kemewahan kerap dipertontonkan tanpa rasa bersalah. Penderitaan rakyat seolah hanya jadi latar belakang yang tak perlu digubris.
Sejarah punya catatannya sendiri. Runtuhnya kepercayaan publik jarang dipicu satu kebijakan gagal. Lebih sering, itu akibat akumulasi luka-luka kecil yang terus diabaikan. Foto cerutu, pesta mewah, dan sikap masa bodoh di saat genting semua itu bisa menjadi simbol yang membekas lama dalam ingatan kolektif rakyat.
Elite politik harus sadar. Legitimasi kekuasaan tidak cuma lahir dari kotak suara pemilu. Ia juga dibangun dari kepekaan sosial. Kalau empati sudah hilang, kekuasaan perlahan tapi pasti akan kehilangan pijakan moralnya.
Rakyat mungkin diam hari ini. Tapi kekecewaan yang terus dipupuk akan mencari jalannya sendiri. Mungkin jadi apatisme, mungkin jadi gelombang kritik yang tak terbendung, atau bahkan bentuk perlawanan politik yang tak terduga.
Pada akhirnya, ini bukan cuma persoalan etika semata. Ini soal arah bangsa kita. Mau dibawa ke mana negeri ini? Apakah akan dikelola dengan nurani, atau cuma jadi panggung kenikmatan untuk segelintir orang di puncak kekuasaan?
Di tengah bencana, rakyat tak butuh cerutu mahal. Mereka juga tak butuh pesta mewah. Yang mereka butuhkan sederhana: empati yang nyata, kehadiran negara yang terasa, dan pemimpin yang tahu kapan harus menahan diri.
Karena nanti, sejarah tak akan mencatat kemewahan pesta-pesta elite. Sejarah akan mencatat, seberapa besar mereka berpihak pada rakyatnya saat bangsa ini terluka.
Artikel Terkait
Patung Macan Aneh di Kediri Justru Jadi Magnet Wisata dan Pendorong Ekonomi Desa
Babi Ngaku Halal: Sindiran Pedas Puji Anugrah Laksono pada Para Pengkotbah Moral
Di Balik Stereotip Manja: Kesepian yang Tak Terungkap dari Anak Bungsu
Retret Kabinet Berakhir, Prabowo Apresiasi Inisiatif Menteri dan Sinyalkan Optimisme 2026