Setiap akhir tahun, linimasa media sosial kita berubah jadi pesta cahaya. Kembang api, hitung mundur, dan ucapan selamat bertebaran di mana-mana. Warna-warni itu seolah jadi simbol optimisme bersama. Tapi, di balik gemerlap itu, ada banyak cerita yang tak terlihat. Banyak orang diam-dari berjuang sendiri, dilanda kecemasan, perbandingan sosial, dan tekanan untuk terlihat baik-baik saja di depan umum.
Fenomena ini bukan cuma omong kosong belaka. Sudah banyak penelitian yang mengonfirmasi hubungan erat antara media sosial dan kesehatan mental, khususnya soal rasa cemas dan kesepian. Ambil contoh, sebuah tinjauan terhadap 114 studi ilmiah. Hasilnya cukup mengejutkan: mayoritas besar, sekitar 78,6%, menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan atau cuma jadi 'pengintip' pasif, berkaitan dengan naiknya tingkat depresi, kecemasan, perasaan terisolasi, dan suasana hati yang buruk.
Di sisi lain, ada juga studi jangka panjang yang melacak ribuan anak dan remaja. Temuannya konsisten: semakin banyak waktu dihabiskan di dunia digital, semakin rendah pula tingkat kesejahteraan subjektif mereka. Salah satu penelitian yang melibatkan hampir 3.700 partisipan muda ini menemukan gejala psikologis yang meningkat, sementara kebahagiaan dan kepuasan hidup justru menurun. Polanya jelas terlihat.
Tentu saja, kita tidak bisa serta merta menyalahkan media sosial. Platform ini juga punya sisi baik, kok. Ia memungkinkan koneksi yang memperkuat ikatan dan memberikan dukungan emosional. Sebuah riset terbaru bahkan menyebut, berbagi pengalaman hidup di media sosial terkadang bisa meningkatkan kesejahteraan mental. Caranya dengan mengurangi stres dan kecemasan, terutama setelah seseorang mengalami peristiwa berat dalam hidupnya.
Namun begitu, manfaat-manfaat positif ini seringkali tenggelam oleh sisi gelap algoritma. Sistem yang dirancang untuk membuat kita terus menggulir layar, tanpa sadar memaksa kita membandingkan hidup kita sendiri dengan "highlight reel" milik orang lain.
Fenomena "Fear of Missing Out" atau FOMO jadi makin menjadi. Desain platform yang memicu keterlibatan tanpa henti memperkuatnya. Banyak pengguna, terutama anak muda, menghabiskan lebih dari dua jam sehari di aplikasi sosial. Dan sekitar sepertiga dari mereka melaporkan masalah seperti kecemasan dan stres yang terkait dengan hal itu.
Momen Tahun Baru sering kali memperparah keadaan. Tekanan untuk memamerkan "tahun terbaik" di linimasa justru memicu perasaan bahwa diri kita tak pernah cukup: tidak cukup bahagia, tidak cukup sukses, tidak cukup berarti. Padahal, esensi sebenarnya dari pergantian tahun bukan terletak pada sorotan kamera atau ucapan selamat. Ini lebih tentang keberanian untuk bertahan, untuk sembuh, dan memaknai hidup dengan cara yang lebih bijak.
Artikel Terkait
Gen Z Ganti Rolex dengan Like: Era Baru Pamer Status di Ekonomi Validasi
Jakarta Kembali Tersedak: Macet Tiba-tiba Menggila Usai Libur Panjang
Sandera AS dan Suara Palestina: Kisah Maduro dari Sopir Bus ke Istana
Hari Pertama Sekolah, Jakarta Kembali Macet Lagi